PDIP tak Takut Sendirian
Kamis, 11 Januari 2007 | 04:56 WIB
TEMPO Interaktif, Sanur:PDIP tak takut sendirian memposisikan diri sebagai partai opisisi di negeri ini. Demikian salah satu inti pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri ketika berpidato dalam rangka HUT partai yang dipimpinnya, Rabu (10/1) di Sanur, Bali.
"Saat ini baru PDI Perjuangan yang secara jelas dan tegas menyatakan diri sebagai oposisi. PDI Perjuangan adalah pionir yang membangun bangunan sistem demokrasi dengan check and balances," ucap Mega yang disambut tepuk tangan bergemuruh dari kader partai yang dating dari seluruh pelosok Tanah Air.
Hadir dalam HUT tersebut sejumlah tokoh nasional dan jajaran pusat PDI Perjuangan. Antara lain tampak Ryamizad Ryacudu, Sarwono Kusuma Atmaja, Faisal Basri, Din Samsyudin, Taufik Kiemas, Guruh Sukarnoputra, Puan Maharani, penyanyi Franky Sahilatua, Edo Kondolangit, Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang, dan Gubernur Sumatera Utara R. Pardede. Di awal acara Edo menghibur
hadiran dengan lagu Indonesia Tanah Airku. Sementara
Franky menyumbangkan suara emasnya lewat lagu Pancasila Rumah Kita pada bagian akhir acara.
Edo mengaku sebagai kader PDI Perjuangan dan mengaku sudah mengantongi KTA. Sedang Franky mengaku masih bebas. "Tapi separuh hati saya ada di PDIP," tutur Franky kepada wartawan seusai acara.
Mega membacakan pidato setebal 15 halaman itu dalam waktu 40 menit. Dia memulai pukul 11.15 Wita, dan baru berakhir tepat pukul 11.55 Wita.
Meski PDIP sendirian beropsisi terhadap pemerintah, namun kondisi itu tidak dirasakan sebagai sebuah kesepian. "PDI Perjuangan tidak pernah merasa kesepian," tegasnya. Tapi Mega segera mengklarifikasi, kesendirian itu bukan disengaja. Pihaknya terbuka untuk menerima partai lain yang mau bergabung sebagai oposan pemerintah.
Dalam kaitan itu, PDI Perjuangan membuka lebar-lebar pintunya sebagai rumah besar bagi kaum nasionalis. Menembus sekat-sekat perbedaan suku, daerah, dan keagamaan.
Ketika menyinggung soal politik luar negeri, Mega menyerang pemerintahan sekarang yang bersikap sebagai "anak manis" di hadapan negara-negara maju. Bukannya politik luar negeri diabdikan untuk memperkokoh kedaulatan negara. Secara tidak langsung Mega juga menyodok Presiden Susilo Yudhoyono yang sering bepergian ke luar negeri. "Efektivtas politik luar negeri bukanlah diukur dari seringnya kunjungan pimpinan pemerintahan ke luar negeri. Masih belum tampak kaitan antara berbagai kunjungan tersebut dengan dukungan negara-negara sahabat dalam menangani kesulitan perdagangan, investasi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas hidup, dan lain-lain," sebut Mega.
Indonesia, tutur Mega, semestinya bisa membangun jembatan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Syaratnya, Indonesia jangan mau dicitrakan sebagai sekadar "anak manis" negara-negara besar dan maju.
Dulu, katanya lagi, dirinya saat menjadi Presiden berani memutuskan kontrak letter of intent dengan IMF demi untuk martabat dan kemandirian bangsa. Demikian juga ketika pihak internasional hendak mengadili tokoh-tokoh nasional dalam kaitan kekacauan di Timor Timur, Megawati berani menampik dan mengupayakan lewat pengadilan HAM bentukan pemerintah sendiri. Meskipun untuk itu ia dianggap keras kepala oleh negara-negara maju. "Biarlah dianggap keras kepala dan tidak diapresiasi, asal harga diri dan kedaulatan bangsa ditegakkan. Ketimbang dianggap anak manis, tapi kemandirian dan kedaulatan bangsa tergadaikan," tegas Mega yang kembali disambut tepuk tangan meriah.
MADE MUSTIKA | ROFIQI HASAN





