Presiden Yudhoyono Minta Negara Islam Kerjasama Atasi Masalah Dunia

Jum'at, 19 Januari 2007 | 13:31 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak negara-negara Islam bekerja sama mengatasi berbagai masalah di dunia Islam. "Kita harus saling membantu membawa umat kepada kesejahteraan," kata Yudhoyono dalam sambutannya saat membuka Konferensi Pertama the International Forum for Islamist Parliamentarian (IFIP), di Hotel Millenium Jakarta, Jumat (19/1).

Yudhoyono prihatin pada peta negara Islam yang di satu sisi ada negara yang makmur, damai, dan maju dimana ada umat muslim menikmati standar hidup yang tinggi dan menjadi pemain utama dalam ekonomi dunia. Namun di sisi lain, ia melanjutkan, ada kantong-kantong kemiskinan, konflik, dan ketertinggalan di negara Islam dimana penduduknya terjebak dalam konflik seperti di Irak,
Afghanistan, Suriah, Libanon, Somalia, dan Palestina.

Yudhoyono berpendapat, negara-negara Islam seharusnya lebih memperluas jaringan kerja sama serta berbagi pengetahuan dan pengalaman. Upaya tersebut, kata dia, kurang intensif sehingga potensi kerjasama yang ada tidak benar-benar dimanfaatkan padahal statistik menunjukkan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan bersama.

Ia mencontohkan data UNICEF yang mencatat negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) setiap tahunnya lebih dari 4,3 juta balita meninggal karena penyakit dan kekurangan gizi. Lalu, lanjutnya, angka kematian ibu saat bersalin di negara Islam di Afrika mencapai 1 kematian dari 15 kelahiran padahal rata-rata dunia hanya 1 meninggal dari 74 kelahiran.

Yudhoyono mengatakan, kasus HIV AIDS di negara-negara Islam di kawasan Afrika, kata dia, juga tergolong tinggi. Belum lagi, kata dia, hanya 60 persen anak di negara OKI yang dapat menikmati pendidikan dasar. "Situasi ini butuh perhatian besar," ujarnya.

Karena itu Yudhoyono minta IFIP menggunakan posisinya sebagai forum strategis yang beranggotakan anggota parlemen yang ikut serta dalam penyusunan kebijakan di negaranya masing-masing. Menurutnya anggota forum memiliki akses, kekuatan, dan kapasitas untuk untuk mengubah nasib dunia Islam.

Presiden menyatakan gembira karena IFIP menunjukkan kesungguhannya untuk menghadapi masalah-masalah yang saat ini ada di dunia khususnya di masyarakat Islam. Masalah-masalah tersebut, kata dia, contohnya hak asasi manusia, dialog antaragama, pemberdayaan ekonomi, reformasi politic, dan demokratisasi. "Saya percaya Anda memulai sesuatu yang sangat penting di sini dan saya harap bibit kerjasama bisa berkembang," ujarnya.

Saat ini, kata presiden, dunia Islam cenderung tertinggal dalam kehidupan global. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak adanya negara islam dalam peringkat sepuluh besar dalam daftar perdagangan dunia, negara terbaik dalam Human Development Index, daftar negara dengan daya saing tinggi.

Yudhoyono mengatakan, dunia Islam tidak boleh tertinggal dan menjadi korban dari globalisasi dan modernisasi. Islam, kata dia, pada dasarnya tidak berlawanan dengan demokrasi dan tidak melawan modernisasi.

Untuk mencapai kemajuan, Yudhoyono berharap negara-negara Islam mau membuka diri mengambil sisi positif dari globalisasi dan modernisasi. Yudhoyono mengatakan, negara Islam harus menyusun perencanaan, bekerja keras, dan menyiapkan pemimpin yang berkualitas.

OKTAMANDJAYA WIGUNA

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :