Ibrahim Hasan Tutup Usia

Sabtu, 20 Januari 2007 | 22:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah mendapat perawatan kurang lebih 14 hari, mantan Menteri Urusan Pangan Kabinet Pembangunan IV Profesor Ibrahim Hasan, meninggal dunia Sabtu (20/1) pukul 02.30 tadi di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Ibrahim meninggal karena sakit strok yang dideritanya.

Menurut Nina, salah seorang anak almarhum, ayahnya masuk rumah Sakit Pondok Indah pada tanggal 7 Januari yang lalu untuk menjalani operasi penyumbatan pembuluh darah. “Dalam dua hari terakhir Bapak sudah mulai anfal dan kjondisinya semakin menurun,” ujarnya disela-sela tahlilan di rumah duka Jl. Kristal Blok H No. 8 Komplek Permata Hijau Jakarta Selatan Sabtu (20/1). Jenazah langsung di makamkan di Komplek Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Almarhum sempat menjalani operasi ginjal di Cina, dan operasi By Pass jantung di Singapura. Menurut Maryam, istri Almarhum, setelah operasi di Singapura kondisi Ibrahim sempat membaik namun kembali terganggu pada saat masuk Rumah sakit dua minggu yang lalu. Menurut Maryam, suaminya tergolong pria romantis, menjelang ulang tahunnya, almarhum selalu menulis surat kepadanya. “Itu dilakukan bapak sejak tahun 1982 hingga uulang tahun saya tahun lalu. Dan saya selalu menyimpannya,” ujar Maryam sambil; berkaca-kaca di sela-sela tahlilan.

Almarhum meninggalkan seorang istri Siti Maryam, dan 5 orang anak. Ibrahim sebelumnya Rektor Universitas Syiah uala, Banda Aceh. Dan menjabat sebagai Gubernur Aceh selama dua periode. Setelah menjadi gubernur almarhum diangkat menjadi menteri Negara Urusan Pangan/ Kepala Bulog. Di tengah jabatannya ia diganti menjadi Kabulog oleh Beddu Amang. Lelaki kelahiran Lampoh Weng, Pidie, 19 Maret 1935, dikenal sebagai pejabat yang suka bekerja keras dan sebagai pejabat yang merakyat.

Sebagai pejabat dari kalangan akademisi, pemikiran-pemikirannya dinilai sangat bermanfaat bagi perkembangan Aceh. Hal ini disampaikan Pjs Gubernur Nanggroe Aceh Dalam, Mustafa Abu Bakar yang ikut menghadiri acara tahlilan. “Pada saat belia menjabat menjadi waktu yang sangat berguna bagi pembangunan Aceh saat itu. Beliau banyak membimbing para juniornya baik secara langsung maupun tidak langsung.” ujar Mustafa.

Mustafa juga menuturkan almarhum mempunyai semnagat juang untuk hidup ketika penyakit bertubi-tubi datang menyerangnya. Hingga menjelang awafat, Mustafa mengatakan almarhum sempat memberikan nasehat dan bimbingan untuk membangun Aceh ke Depan. Dian Yuliastuti






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: