close

Kalla: Jangan Curigai Al-Zaytun

Minggu, 21 Januari 2007 | 23:10 WIB

TEMPO Interaktif, Indramayu:Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Pondok Pesantren Al-Zaytun sebagai salah satu pesantren yang sudah dikelola dengan baik serta telah meninggalkan pandangan kotor, sederhana, dan sempit. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak lagi mempermasalahkan pondok yang didirikan Panji Gumilang tersebut.

"Masyarakat kalau melihat pesantren sederhana ditanyakan, tapi kalau besar dan mewah juga ditanyakan," kata Kalla saat memberikan sambutan pada perayaan tahun baru Islam 1428 Hijriah di Al-Zaytun, kemarin. Perayaan ini dihadiri Menteri Agama Maftuh Basyuni, Wakil Gubernur Jawa Barat Nu'man A. Hakim, serta ribuan santri dan orang tua murid.

Al-Zaytun, yang menempati area 1.200 hektare, diresmikan pada 1999 oleh Presiden B.J. Habibie. Saat ini, pesantren tersebut menampung 10.579 siswa, termasuk dari Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, dan Brunei Darussalam.

Sementara itu, Panji Gumilang untuk kesekian kalinya menolak tudingan bahwa pesantrennya terkait dengan gerakan KW 9 yang bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia. Ia meminta masyarakat menghentikan tudingan itu. "Itu tudingan salah alamat. Al-Zaytun adalah pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian," ujarnya.

Dalam pengembangan pendidikan, kata Panji, pesantrennya tidak berbeda dengan pesantren lain, yakni mengusung semangat mandiri, cinta ilmu, dan toleransi.

Pada bagian lain, Panji juga menegaskan pesantrennya tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, termasuk Partai Golkar, yang dipimpin Jusuf Kalla. Ia juga menyatakan belum mengambil sikap untuk mendukung partai dalam pemilu mendatang. "Tahun 2009 masih jauh. Kita lihat saja nanti. Calonnya saja belum tampak," ujarnya. Dalam pemilihan presiden 2004, pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid menang mutlak di pesantren ini. SUTARTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan