Sonia Gandhi: "Mata Balas Mata" Telah Membutakan Dunia

Senin, 29 Januari 2007 | 21:13 WIB

TEMPO Interaktif, Delhi:Presiden Partai Kongres Nasional India, Sonia Gandhi mengatakan bahwa semboyan "mata dibalas mata" (an eye for an eye) selama ini telah membutakan mata dunia. Prinsip ini juga telah meminta banyak korban dalam bentuk pembunuhan dan segala akibat mengerikan dari praktek kekerasan.

Sonia mengakui bahwa saat ini demokrasi memang menyebar cukup luas ke banyak penjuru dunia, tapi fakta bahwa penggunaan kekerasan secara masif masih terjadi di mana-mana tak bisa diingkari. "Bahan bakar bagi kekerasan itu bisa berupa semangat nasionalisme, sektarianisme, ideologi, dan sebagainya," kata istri mendiang Rajiv Gandhi itu dalam sambutan acara pembukaan konferensi bertajuk "Perdamaian, Anti Kekerasan, dan Pemberdayaan: Filsafat Gandhi di Abad ke-21" di Delhi, India, Senin (29/1).

Mengutip Mahatma Gandhi melalui ajaran "satyagraha"-nya, Sonia mengatakan bahwa semangat intoleransi merupakan kekerasan terburuk yang bisa menimbulkan akibat mengerikan. Dan ancaman dunia saat ini menjadi makin besar ketika senjata nuklir kembali menjadi isu global dan terus diproduksi. "Ya, India pun memilikinya," kata Sonia, dalam pidato yang mendapatkan sambutan hangat hadirin dari perwakilan partai-partai besar di 80 negara.

Pemenang Nobel Ekonomi dari Bangladesh, Mohammed Yunus, juga menyampaikan kritiknya terhadap pola pembangunan dan globalisasi ekonomi yang sering melupakan mereka yang miskin dan tak punya akses terhadap sumber daya. "Upaya melawan kemiskinan dalam hambatan sistem finansial seperti itulah yang kami perjuangkan di Grameen Bank," katanya dalam sambutan di acara itu.

Kritik mengenai tata ekonomi dunia yang timpang itu pula yang disampaikan oleh mantan presiden Polandia, Lech Walesa, dalam pidatonya. "Ajaran Gandhi jelas tak boleh hanya dibatasi pengaruhnya untuk India dan Afrika Selatan, tapi bagi seluruh Dunia."

Konferensi di Delhi ini akan berlangsung dua hari hingga besok, dengan agenda utama membahas implementasi ajaran Mahatma Gandhi mengenai pendekatan antikekerasan dalam resolusi konflik dan penciptaan perdamaian. Isu menuju tata dunia tanpa kekerasan dan bebas senjata nuklir adalah salah satu fokusnya. "Ajaran Gandhi jelas sangat relevan untuk menyelesaikan banyak masalah masa kini," kata Pranab Mukherjee, Menteri Luar Negeri India.

Dari Indonesia, hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar beserta sejumlah pengurus teras partai pemenang pemilihan umum 2004 itu. Hadir pula delegasi dari Partai Demokrasi Perjuangan, yakni sekretaris jenderal partai Pramono Anung dan anggota fraksi Emir Moeis. "Ibu Mega tidak bisa hadir karena ada acara yang tak bisa ditinggal dan telah direncanakan sejak lama," kata Emir Moeis.

Y. Tomi Aryanto

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: