Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

BOS Gagal Tingkatkan Mutu Pendidikan
Kamis, 08 Pebruari 2007 | 18:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia Coruption Watch (ICW) menilai, dana Operasional Sekolah (BOS) tidak banyak berperan dalam meningkatkan mutu dan layanan pendidikan. “Tujuan BOS itu ada dua, yaitu meningkatkan pelayanan dan membebaskan biaya pendidikan. Kami menilai keduanya gagal,” kata Monitoring Pelayan Publik ICW Ade Irawan seminar di Jakarta, Kamis (08/02).

Kegagalan itu karena logika pemerintah salah dalam melihat situasi. Sebelum dana BOS diluncurkan, seharusnya pemerintah mencari tahu berapa kebutuhan siswa dan berapa kebutuhan sekolah. “Nah, dalam BOS, logikanya justru terbalik. Yang dilakukan pemerintah justru menyiapkan uangnya dulu lalu uangnya itu dicukup-cukupkan. Sehingga akhirnya tidak cukup,” katanya.

Selain itu, Ade juga menilai Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terlalu tertutup soal dana BOS. Ketertutupan Depdiknas inilah yang membuat sosialiasasi BOS jadi terhambat. “Dari hasil survey yang kami lakukan, sebagian besar masyarakat memang tahu tentang BOS, tapi mereka tidak tahu berapa besar dana yang diterima sekolah dari pusat,” katanya.

Namun ia mengakui distribusi dana Bos telah tepat sasaran. Masalahnya justru ada pada penggunaan dana tersebut. Ia menilai penggunaan dana BOS justru lebih besar digunakan untuk keperluan birokrasi pendidikan, bukan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan. “Empat puluh tiga persen dari 20 persen anggaran pendidikan dipakai untuk birokasi pendidikan,” ujarnya.

Saat ini ada pergerseran pola korupsi di Departemen Pendidikan. Kalau dulu, korupsi dilakukan dengan langsung menilap anggaran pendidikan, tapi sekarang caranya lebih halus. Dana BOS memang turun ke sekolah-sekolah, tapi uang tersebut akan naik lagi ke pusat. “Naiknya itu ada dua sebab, pertama karena sekolah diperas oleh Diknas, kedua sekolah dengan sukarela menyerahkan ke Diknas,” ujarnya.

Dwi Riyanto Agustiar


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pelayan di Sekolah Dasar Masih Buruk
Satu Trilyun untuk Rehabilitasi Sekolah di Jawa Timur
Bambang Sudibyo Harapkan Data Penyelewengan
Presiden Minta Biaya Pendidikan Tidak Membebankan Masyarakat
Suplier Proyek Sekolah Mengadu ke DPRD Tangerang
Depok Siapkan Kebijakan Pencemaran Udara
Bogor Bebaskan Biaya Sekolah
Pemerintah Bekasi Ijinkan Sekolah Pungut Biaya Operasional
Sidang Terdakwa Anak-Anak Digelar
Menjelang Ajaran Baru Warga Datangi Pegadaian
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk92810 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Menteri Pertanian Optimistis Indonesia Ekspor Beras Tahun Depan
Solar Langka di Tegal
Kemarau Tiba, Petani Cilacap Kekurangan Air
Tarif Hotel Akan Naik 20 Persen
Tersangka Pengelapan Pajak Bisa Bertambah

<< February,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data