Iran Kritik Program Keluarga Berencana

Selasa, 13 Februari 2007 | 17:19 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar:Deputi Riset dan Teknologi Kementerian Kesehatan Iran Hossein Malek Afazali mengkritik pelaksanaan program Keluarga Berencana di Indonesia. "Indonesia hanya berkonsentrasi pada kuantitas atau menurunkan jumlah penduduk saja," kata Malek dalam acara Konferensi Internasional Pemimpin Muslim Untuk Mendukung Program Kependudukan dan Pembangunan, di Bali, Selasa (13/2).


Menurut dia, target kuantitas tidak menjamin keberhasilan dan keberlangsungan program KB. "Kalau masyarakat tidak merasa butuh (ber-KB) mereka tidak akan mau," ujarnya.

Iran, kata Malek yang juga mengajar di Universitas Teheran, memulai program pengendalian pertumbuhan penduduk pada tahun 1988. "Kami mulai 20 tahun setelah Indonesia," katanya.

Namun, lanjut dia, laju pertumbuhan penduduk yang dicapai Iran saat ini lebih baik ketimbang Indonesia, yaitu 1,2 persen, sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia 1,35 persen per tahun.

Pada awalnya, Iran sering mengirimkan utusan untuk belajar tentang program KB di Indonesia. "Namun pemerintah kami saat itu menolaknya karena bertentangan dengan ajaran agama," katanya.

Oleh sebab itu, program pengendalian penduduk di Iran kemudian dialihkan melalui peningkatan kualitas hidup. "Saat kami tawarkan program ini, pemerintah setuju dan sesuai dengan ajaran agama," katanya.

Program peningkatan kualitas hidup itu, jelas Malek, misalnya dengan cara mencegah kehamilan pada wanita berusia di bawah 18 tahun dan lebih dari 35 tahun. "Jadi yang boleh melahirkan hanya wanita berusia 18 sampai 35 tahun," katanya. Sehingga, anak yang dilahirkan, kata dia, rata-rata dua sampai tiga orang saja.

Selain itu, pemerintah juga menggandeng tokoh agama dan organisasi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. "Pendekatan yang kami gunakan, berbeda dengan Indonesia," katanya.


Rini Kustiani






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: