Materi Ketenagakerjaan Akan Masuk Kurikulum Sekolah
Selasa, 13 Februari 2007 | 18:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah akan memasukkan materi ketenagakerjaan dalam kurikulum sekolah menengah kejuruan atau sederajat dan satuan pendidikan nonformal. Materi kurikulum yang akan ditambahkan itu berupa hubungan industrial, pelatihan dan sertifikasi, bursa kerja, serta peraturan perundangan ketenagakerjaan.
Kebjiakan pemerintah itu terangkum dalam nota kesepakatan bersama antara Departemen Tenaga Kerja, Departemen Pendidikan Nasional serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang ditandatangani Selasa (13/2),di Kantor Depnakertrans. Tujuannya untuk menyelaraskan program pendidikan pelatihan dan fasilitasi penempatan tenaga kerja bagi siswa sekolah menengah kejuruan dari satuan pendidikan nonformal.
Depnakertrans akan menyiapkan materi pengajaran yang berkaitan dengan bidang pelatihan, sertifikasi, penempatan tenaga kerja dan bidang hubungan industrial. "Selain itu juga akan memberikan pelatihan berdasarkan standar dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi," ujar Sekretaris Jendral Depnakertrans, Harry Heryawan Saleh seusai acara.
Sementara, Depdiknas bertangungjawab untuk memasukkan materi pengajaran tersebut ke dalam kurikulum. "Akan disinergikan dengan materi dari Depnaker," ujar Suyanto, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas. Ia menambahkan untuk meningkatkan kompetensi siswa didik menengah kejuruan, Depdiknas akan menaikkan rasio perbandingan dengan siswa menengah umum pada tahun 2009. "Dari 35 persen menjadi 40 persen," katanya.
Saat ini, berdasarkan data Depnakertrans, lembaga pendidikan formal sebagai salah satu penyedia tenaga kerja masih didominasi lulusan SMTA Umum yang besarnya 14,11 persen. Sedangkan lulusan SMTA kejuruan hanya 6,12 persen. Padahal, tambah Harry, lulusan SMTA kejuruan lebih relevan dengan lapangan kerja.
Ninin Prima Damayanti





