Survei IFES : Situasi Ekonomi Aceh Buruk

Kamis, 15 Februari 2007 | 16:16 WIB

TEMPO Interaktif, Banda Aceh:Survei yang dilakukan IFES, lembaga internasional untuk membangun demokrasi di dunia, menyebutkan situasi dan kondisi perekonomian di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam buruk.

Rakesh Sharma, Research Manager IFES, dalam paparannya di Swiss Bel-Hotel, Banda Aceh, Kamis (15/02), menjelaskan, survei itu dilakukan baru-baru ini di seluruh wilayah Aceh, kecuali Sabang dan
Simeulu.

Survei itu berkaitan dengan pelaksaan pilkada di Aceh, akhir tahun lalu. Survey itu difasilitasi oleh USAID, Amerika Serikat. “Survey ketiga yang dilakukan IFES Indonesia di Aceh selama enam bulan terakhir,” sebut Rakesh.

Temuan survey selain hal-hal yang umum dalam pilkada Aceh, juga menyangkut kondisi berbagai aspek kehidupan di Aceh. Sedikitnya 60 persen masyarakat Aceh menilai
situasi ekonomi di Aceh masih buruk, 33 persen menilainya baik. Tentang lapangan pekerjaan, 79 persen menilainya ketersediaan lapangan kerja buruk dan 24 persen menganggapnya baik. Survey dilakukan dengan metode wawancara terhadap 1.203 responden.

Dalam hal keamanan, Rakesh menyebutkan sekitar 95 persen masyarakat Aceh menilainya baik dan selebihnya menilai buruk. Umumnya masyarakat menilai kebebasan
berbicara dan berpindah tempat kemana saja sudah aman dilakukan saat ini.

Dengan kekhawatiran situasi ekonomi yang buruk, responden menginginkan pemerintahan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar (pasangan gubernur dan wakil
gubernur Aceh) untuk lebih fokus pada kondisi ekonomi di Aceh dalam 100 hari masa kerjanya. adi warsidi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: