Penderita AIDS di Papua Melonjak
Minggu, 18 Februari 2007 | 15:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dirjen Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Departemen Kesehatan, I Nyoman Kandun, menyatakan sebanyak 947 jiwa dari 2,5 juta jiwa penduduk Papua menderita HIV/AIDS. "Artinya 2,5 persen penduduk Papua kena HIV," katanya saat dihubungi Tempo, Minggu (18/02). Ia menambahkan, angka tersebut belum termasuk penduduk pendatang dan wanita tuna susila.
Menurut Kasie Bimbingan dan Evaluasi Subdit Aids dan Penyakit Menular Seksual Depkes, Dyah Esti Mustikawati, tingginya angka penderita HIV di Papua disebabkan karena maraknya perilaku seks bebas di sana.
"Pola berganti-ganti pasangan di Papua sangat tinggi, bisa empat sampai lima kali antar pasangan," kata Dyah saat dihubungi Tempo, Minggu (18/02).
Ia menambahkan, sekitar 47 persen penderita HIV di Papua disebabkan karena hubungan seks. Saat ini, menurutnya, telah didata dengan melalui kepala adat untuk menekan pola hidup seks bebas di Papua.
"Kami sudah dua kali mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh adat, cuma belum sampai ke bawah. Rencananya kami akan melakukan terobosan dengan pendekatan langsung ke bawah," katanya.
Departemen Kesehatan mencatat, hingga akhir Desember 2006 terdapat setidaknya lima wilayah lain dengan penderita HIV terbanyak. Antara lain, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara.
Data laporan penderita HIV di DKI Jakarta tercatat 2565 orang dari hasil estimasi 21.487 penderita. Jawa Barat sebanyak 940 jiwa dari estimasi 14.341. Jawa Timur sebanyak 863 penderita dari estimasi 15.699. Di Kalimantan Barat penderita mencapai 553 dari estimasi sebanyak 4.314. Sedangkan di Sumatera Utara tercatat 242 penderita dari estimasi 11.014. Kecuali di Papua, hasil survey terpadu HIV dan Perilaku 2006 Depkes, menemukan penyebab utama HIV adalah jarum suntik.
Dyah menilai penanganan HIV, terutama di Papua belum efektif karena kondisi geografis yang tidak mendukung. "Ada wilayah yang tidak bisa dijangkau dengan kendaraan apapun, kalaupun bisa itu dengan helikopter," katanya. Ia menambahkan, belum kondusifnya suasana antar suku di Papua serta infrastruktur yang tidak memadai juga merupakan faktor penting yang menghambat sosialisasi program pencegahan HIV di Papua.
Dwi Riyanto Agustiar





