Kalla di Antara Rapat dan Kenyatan (...yang Terpoles)

Kamis, 01 Maret 2007 | 16:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Bau menyengat masih tercium dari pulasan cat putih mengkilat di lokomotif dan gerbongnya. Sekilas kereta yang perlahan memasuki Stasiun Gambir di Rabu pagi, 28/2, yang masih temaram itu tampak seperti baru.

Ketika berhenti dan cahaya matahari mulai menembus kaca gelapnya, tampaklah bahwa ini memang bukan kereta yang biasa hilir mudik di jalur rel yang membelah sekujur pulau Jawa. Dalam gerbongnya yang diberi label "Nusantara", satu set sofa kemerahan tampak saling berhadapan membelakangi jendela. Berbaris-baris kursi bersaput kain putih terlihat pula di ujung lain gerbong itu. Rapi layaknya ruang rapat.

Inilah satu dari delapan rangkaian gerbong Kereta Api Kepresidenan yang dilengkapi dengan dua lokomotif penarik. Ada pula gerbong spesial Bali, yang khusus diperuntukkan bagi presiden dan wakil presiden. Lalu gerbong spesial Toraja, serta tiga gerbong eksekutif kelas Argo.

Di gerbong yang dirancang khusus sebagai ruang pertemuan itulah kemarin Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat dalam perjalanannya menuju Yogyakarta. Membahas aneka program kerja sektor perhubungan, pembicaraan berlangsung tanpa terganggu berisik laju kereta, karena gerbong sengaja dibuat senyap dan sempurna meredam suara dari luar kabin.

Turut dalam rombongan Kalla antara lain Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dan pejabat eselon I dan eselon II di Departemen Perhubungan. Hadir pula Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara BUMN Sugiharto, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Paskah Suzetta.

Dalam dua bulan terakhir, pemerintah mengadakan rapat secara bergliran dari satu kantor departemen ke kantor departemen lainnya. Biasanya rapat digelar di kantor departemen. Tapi ketika giliran Departemen Perhubungan, rapat digelar di atas kereta api, sambil beberapa kali berhenti untuk peninjauan stasiun kereta.

"Ini efektif karena seeing is believing," kata Kalla. Seringkali, ujarnya, rapat berlangsung tapi tak jelas apa yang dibicarakan karena berbeda dengan kenyataan. "Sulit bicara tentang kereta api kalau tidak melihat fakta di lapangan."

Mungkin juga. Tapi yang pasti, "kenyataan" yang kemarin dilihat Kalla di setiap stasiun jelas berbeda dengan kenyataan sehari-hari. Stasiun Purwokerto, misalnya, yang biasanya penuh pedagang asongan, mendadak bersih dan sepi.

Stasiun Cirebon malahan disesaki puluhan pelajar SD dan SMP, yang datang khusus untuk menyambut Kalla dengan lambaian bendera merah putih. Para pelajar itu bahkan "terpaksa" meninggalkan kewajibannya di bangku sekolah selama setengah hari demi “acara negara” itu.

Seperti halnya gerbong yang masih beraroma cat itu, "kenyatan" memang sudah terpoles begitu rupa, agar tampak lebih pantas ditengok Bapak Wakil Presiden. OKTAMANDJAYA WIGUNA






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: