Pesawat Oleng Sebelum Mendarat
Rabu, 07 Maret 2007 | 22:31 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Hendro Sangkoyo termasuk penumpang GA 200 yang beruntung. Adik bungsu almarhum Dr Umar Kayam ini baru kembali dari kamar belakang ketika pesawat oleng dan jatuh di Yogya.
DR. Hendro Sangkoyo, 51 tahun, tak mendengar pemberitahuan akan mendarat di pagi yang cerah itu. Alumnus Universitas Cornell ini sedang menggunakan
toilet pesawat Ga 200 dari Jakarta ke Yogya ketika ia melihat lampu untuk tanda kembali ke kabin menyala, Rabu pagi (7/3) itu. ‘’Setelah cuci tangan saya kembali ke kursi saya, nomor 11 D,’’ katanya.
‘’Tak lama kemudian, mungkin antara tiga sampai lima menit setelah saya duduk dan mengenakan sabuk pengaman, tiba-tiba pesawat oleng ke kiri dan semua penumpang berteriak kaget,’’ katanya.
Yoyok, panggilan akrab Hendro Sangkoyo, memperkirakan saat itu ketinggian pesawat sekitar 10 meter karena sebelumnya ia mulai melihat pucuk-pucuk pohon dari jendela. ‘’Saya merasa pesawat terlalu cepat untuk mendarat,’’ katanya lagi.
Sesudah itu ia mendengar suara keras dan merasa pesawat
menyentuh tanah namun terpantul kembali ke atas. Lalu pesawat jatuh lagi ke bmi dengan suara keras lagi dan patah. ‘’Saya merasakan getaran dan bunyi yang mengindikasikan badan pesawat bergesek langsung dengan tanah,’’ tutur lulusan arsitektur ITB yang mengambil S-3nya di bidang planologi ini.
Pesawat kemudian berhenti. Yoyok bangun dan tadinya berniat membuka pintu darurat. ‘’Saya memang duduk di jajaran pintu darurat tapi di bagian gang dan, sebelumnya, saya sempat ditanya apa bersedia membuka pintu darurat jika diperlukan,’’ kata ayah dua anak ini. Yoyok tak jadi membuka pintu darurat di kanan karena ia melihat sayap telah terbaka dan banyak asap. ‘’Akhirnya saya membantu membuka pintu darurat yang di kiri,’’ kata
anggota senior pencinta alam Wanadri ini.
‘’Pada saat itu penumpang kalem, bahkan ada yang berteriak tenang-tenang,’’ tutur adik bungsu almarhum DR Umar Kayam ini. ‘’Saya juga baru tahu kalau pintu darurat itu ada dua,’’ katanya.
Seorang penumpang, ibu-ibu agak gemuk yang mengenakan jilbab hijau, melompat keluar duluan dan yangh lain menyusul. ‘’Jaraknya tinggi juga dan tanah sawah di bawah
tak rata jadi banyak juga yang tergelincir,’’ kata Yoyok.
Yoyok mengaku sempat melihat-lihat sekeliling sebelum melompat keluar sambil menggerek dua pramugari yang terisak-isak. ‘’Saya lihat di bagian depan sudah tak ada siapa-siapa,’’ tuturnya.
Ia lalu bergegas membawa
kedua pramugari ke tempat aman sebelum berhenti melihat sekitar. ‘’Saya lihat cockpit sudah tak berbentuk. windshieldnya sudah tak ada,’’ katanya.
Yoyok juga mengaku melihat mobil pemadam kebakaran datang dalam waktu cepat setelah ia keluar ari pesawat, ‘’mungkin dalam setengah menit,’’ katanya. Hanya saja ia menyayangkan air disemprotkan terlalu cepat hingga
tak sampai ke pesawat. ‘’Mungkin lima sampai 10 menit kemudian baru air semprotan menggapai pesawat,’’ katanya.
Ia menduga selangnya mungkin belum sempat diumbar karena posisi pesawat agak jauh dari jalan. ‘’Kalau langsung berhasil menyemprot pesawat, mngkin lebih banyak yang bisa terselamatkan,’’ sesalnya.
Saat menyaksikan upaya penyemprotan, Yoyok mendengar namanya dipanggil seseorang. Ternyata yang memanggilnya Tami, seorang aktivis Dian Desa yang juga menumpang pesawat itu. Yoyok sempat meminjam HP Tami untuk menelepon istrinya, Yetti Rosila Hadi, untuk mengabarkan dirinya selamat. ‘’soalnya HP saya hilang,’’ kata pria berkacamata dan berperawakan ramping ini.
Belakangan Yoyok melihat mesin pesawat ternyata teronggok di landasan. ‘’Saya jadi mnduga pesawat mungkin jatuh karena mesinnya copot,’’ katanya.
Padahal sebelumnya Yoyok menyangka pesawat jatuh karena ‘’wind shear’’ angin samping.
Yoyok pulang ke Jakarta dengan pesawat, petang tadi. Ia sampai di bandara Soekarno-Hatta pkl 19.10. Istrinya telah menunggu di bandara. ‘’Tadi pagi saya sebenarnya sudah dapat firasat,’’ kata Yoyok. Ketika berada di taxi
ke bandara, tiba-tiba ia sadar uangnya ketinggalan di rumah. ‘’Saya sama sekali tak punya uang,’’ katanya.
Yoyok lantas menelepon istrinya. ‘’Bukannya saya pulang dan membatalkan kepergian, saya malah pinjam uang
Rp 150 ribu dari supir taxi yang kemudian mendapat penggantian dari istri saya di rumah,’’ katanya.
Sampai di bandara dan ketika naik pesawat, ‘’saya merasa pesawatnya kok lecek betul,’’ katanya. Belakangan, ia mendapa informasi dari penumpang yang selamat lainnya, banyak yang terluka kena meja. ‘’Meja-meja kursi
memang langsung berantakan ketika pesawat jatuh,’’ katanya.
Yoyok tak kapok naik pesawat. Ia tak terdengar cemas ketika di wawancara TEMPO via telepon dalam perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta ke rumahnya di kawasan kebayoran. ‘’Yang pasti saya merasa banyak yang tak beres
dengan penerbangan tadi pagi,’’ katanya. Bambang Harymurti





