Nasharuddin Umar: Jangan Memistikkan Musibah
Jum'at, 09 Maret 2007 | 13:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Jenderal Bimbingan Islam Departemen Agama yang bertindak sebagai khatib shalat Jumat dan Dzikir Nasional, Nasharuddin Umar, meminta umat Islam tidak memistikkan musibah. Menurut dia, setiap musibah adalah fenomena alam yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Umat Islam sebaiknya memanfaatkan umur tersisa untuk berlomba mengukir prestasi spiritual terbaik untuk menghindari musibah. "Tidak perlu melakukan hal mistik untuk menghindari bala, tapi cukup dengan prestasi spiritual. Jika belum ada, Allah masih meminjamkan umur bagi kita untuk prestasi spiritual terbaik," papar dia dalam khutbahnya di Mesjid Istiqlal, Jumat (8/3). Shalat Jumat dan Dzikir Nasional itu dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan para menteri.
Sebelumnya, Umar menceritakan kisah dalam Kitab Syara yang memperlihatkan bagaimana tiga orang yang terperangkap batu besar dalam gua bisa selamat dengan bantuan amal yang telah mereka lakukan.
Orang pertama menyebutkan amal bagaimana ia berbuat baik kepada keluarga, dan batu pun mulai bergeser sedikit. Orang kedua, menyebutkan amal bagaimana ia menjaga diri dan kehormatan dengan menghindari zina, dan batu sedikit terkuak.
Barulah setelah orang ketiga menyebutkan amal bagaimana ia mengolah gaji karyawan yang belum diambil hingga berlipat-lipat, batu besar itu terbuka dan mereka semua bisa keluar dengan selamat.
"Jika masalah rumah tangga, penyimpangan seksual dan kejahatan ekonomi terjadi di mana-mana, maka kita harus bertobat,"tegas Umar.
Hamba yang baik, dia menegaskan, tidak bersu'uzhon (prasangka buruk) dengan datangnya musibah, tapi belajar dan mengambil hikmah dibalik itu seraya mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji'un.
"Ini bukan azab tapi musibah dan ujian. Musibah adalah surat cinta Tuhan kepada hamba-Nya," ujarnya merujuk pada musibah longsor dan banjir di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, gempa bumi di Batu Sangkar Sumatera Barat dan insiden terbakarna pesawat Garuda di Yogyakarta. Badriah





