Presiden Tak Perlu Sarjana
Kamis, 15 Maret 2007 | 20:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Anggota Komisi Pertahanan DPR Mahfud MD. mengatakan seorang calon presiden dan wakil presiden tak harus berijazah sarjana. “Presiden adalah pimpinan politik, bukan pimpinan akademik. Jadi persayaratan itu tidak perlu,” kata wakil dari Partai Kebangkitan Bangsa ini di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Kamis (15/3).
Menurut Mahfud, pemimpin negara adalah jabatan politik yang kapasitasnya tidak hanya dinilai dari pendidikan atau ijazahnya. “Ini bukan masalah memilih rektor atau dekan, tapi pemimpin politik,” ujarnya. Oleh kerana itu menurut penilaian ini seharusnya menjadi hak dan otoritas rakyat.
Alasan lain mengapa masalah tingkat pendidikan ini tidak perlu diatur demikian, menurut Mahfud, adalah kesaksian sejarah. “Sepanjang sejarah perjuangan kita, orang-orang hebat itu justru sebagian besar adalah yang tidak sekolah,” ucapnya.
Dia lalu mencotohkan Adam Malik, Soeharto, Harmoko dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang tidak memiliki ijazah sarjana. Hanya saja yang harus digaris bawahi, kata Mahfud, adalah mereka ini orang-orang yang terbukti hebat dalam hal peran politiknya.
Saat ditanya apakah persyaratan itu bernuansa politik dengan tujuan menjegal calon tertentu, Mahfud mengatakan dia belum berpikir kearah situ. “Tidak, saya kira ini hanya masalah rasionalitas saja,” katanya.
Namun dia menegaskan bahwa persyaratan itu tetap harus ditolak habis-habisan. Karena, menurutnya, hal itu tidak sesuai dengan tatanan politik di Indonesia. Apalagi jika ditengok dari sisi kesaksian sejarah yang dengan jelas menunjukkan bahwa orang-orang hebat itu justru banyak bermunculan dari mereka yang tidak berpendidikan tinggi.
Diberitakan sebelumnya, pemerintah telah menyelesaikan draf RUU Paket Politik yang terdiri dari RUU Parpol, RUU Pemilu Legislatif, RUU Pemilihan Presiden/Wakil Presiden dan RUU Susunan dan Kedudukan DPR/MPR. Dalam draf ini pemerintah mengusulkan agar salah satu persyaratan calon persiden dan wakil presiden adalah berijazah sarjana.
Titis Setianingtyas





