Warga Sukoharjo Akui Sebagai Pemilik Sepeda Motor Teroris

Kamis, 22 Maret 2007 | 16:26 WIB

TEMPO Interaktif, Sukoharjo:Dua warga Sukoharjo mengakui dua kendaraan sepeda motor yang disita polisi saat penangkapan lima kawanan teroris di Yogyakarta, Selasa lalu, sebagai milik mereka.

Murtini, warga Dukuh Tempusan RT III/VII Desa Pondok, Kecamatan Grogol, Sukoharjo mengakui sepeda motor merk Honda Supra AD 3701 AT dipinjam kakak kandungnya, Sutarjo (32). "Katanya mau ke Klaten, ke rumah temannya, tapi sampai sekarang malah tidak ada kabarnya," kata Murtini kepada TEMPO, Kamis (22/3)

Hal yang sama juga dikatakan oleh H. Saridi, orang tua Amir Achmadi (32) pemilik sepeda motor Honda Win AD 4853 MT yang juga disita aparat. Menurut Saridi, anak sulungnya itu Selasa siang lalu sempat mampir ke rumahnya di Gatak, Madegondo, Grogol Sukoharjo menitipkan anak dan isterinya. Amir tidak pamit hendak pergi kemana. "Saya tahu motor anak saya disita polisi Yogyakarta dari televise, tetapi siapa yang memakai tidak tahu, apakah anak saya atau dipinjam temannya," kata dia.

Kedua keluarga itu pantas bingung karena hingga saat ini nama-nama tersangka yang ditangkap kepolisian simpang siur. Sampai saat ini para anggota keluarga mereka belum tahu nasibnya. Polisi juga belum pernah memberi kabar atau menanyai soal kepemilikan sepeda motor mereka yang dibawa oleh kawanan teroris tersebut. "Saya tidak mau jawab kemana suami saya pergi, siapa saja temannya. Saya lepas tangan, silakan cari informasi dari orang lain saja," kata Sri Suyani, isteri Sutarjo ketus.

Sutarjo sehari-hari menjadi tukang tambal ban di depan warung klontong isterinya. Dia juga sering menjadi khatib Jum'atan di Masjid Al Amin Tempusan RT 1/II. Selain itu, pria beranak dua lulusan STM Murni Solo ini juga kerap mengisi pengajian. Ketua RT I/II, Mujiyanto mengaku tidak tahu persis kegiatan lain yang dilakukan Sutarjo. "Di kampong dia baik, nongkrong di wedangan juga sering. Tapi sepertinya memang punya kelompok sendiri, hanya saya tidak tahu," kata dia.

Sementara, Achmad Saibani, adik kandung Amir mengatakan sehari-hari, kakaknya menjadi ustadz di Pondok Pesantren Ulul Albab Polokarto, Sukoharjo. Amir tinggal di pondok tersebut bersama isterinya, Titik, perempuan asal Magetan yang dinikahinya tiga tahun lalu. Titik juga mengajar di pondok tersebut. "Selepas tamat kuliah, dia pernah pamit melaut, katanya ke Serawak, Malaysia. Sekitar tahun 1990-an, selama setahunan," ujarnya.

Selepas dari Malaysia, ada sedikit perubahan pada diri Amir. Dia memelihara jenggot dan celana panjangnya di atas mata kaki. Saridi mengaku tidak tahu kegiatan anaknya itu, namun dia memastikan anaknya tidak pernah terlibat dalam demonstrasi ataupun gerakan jihad di Poso ataupun Ambon.

Imron Rosyid

TOPIK






Komentar Anda

Kirim