Bahan Peledak di Rumah Kasdi Diduga Diangkut Pakai Keranjang Bambu
Kamis, 22 Maret 2007 | 16:33 WIB
TEMPO Interaktif, Sukoharjo:Keterlibatan Kasdi alias Sikas dalam kasus jaringan terorisme masih dalam penyelidikan. Petugas juga menyelidiki asal usul keberadaan potasium klorat yang disimpan di bungker rumah KAsdi.
Kapolwil Surakarta Kombes Pol Yotje Mende, kepada wartawan enggan menjawab soal keterlibatan Kasdi dalam jaringan teroris. "Itu menjadi kewenangan Mabes Polri, kami hanya membantu melakukan pengamanan dan olah TKP. Asal usul bahan peledak dan untuk apa bahan itu disimpan saat ini masih dalam proses penyelidikan," tuturnya di rumah Kasdi.
Ia menambahkan, untuk bahan peledak seperti bom selanjutnya dibawa ke Markas Brimob Semarang, lalu potasium disimpan di Mapolwil Surakarta, dan amunisi dibawa ke Mabes Polri.
Sementara itu, para tetangga Kasdi kaget dengan penemuan barang-barang tersebut apalagi disimpan dalam bungker. Mereka tidak ada yang tahu tentang pembuatan bungker tersebut meski ukurannya relative agak besar yakni 3x4 meter.
"Terus terang hampir semua warga disini kaget. Selama ini, Kasdi itu orang yang baik pada tetangga. Yang mungkin agak mencurigakan hanyalah aktivitas malam hari di rumah dia. Soalnya, seringkali pada malam hari kedatangan tamu dengan mengendarai mobil dan sepeda motor. Padahal itu dulunya jarang. Kalau ada tamu kadangkala lampunya dimatikan. Ada kemungkinan, senjata dan bahan peledak yang jumlahnya berkarung-karung itu dibawa menggunakan mobil atau sepeda motor yang datang membawa keranjang bambu," ujar Sugimin, salah satu tetangga tersangka.
Sementara itu situasi di rumah tersangka hingga kemarin masih dipasangi police line dengan penjagaan dari aparat. Rumah KAsdi berada di tengah-tengah rumah penduduk lainnya. Rumah berdinding tembok batu bata merah itu tergolong sederhana dibanding dengan rumah penduduk lainnya.
Selama ini Kasdi hanya bekerja srabutan. "Kadang membantu menjadi buruh tukang bangunan, kadang buruh tani. Apa yang bisa menghasilkan uang, dia rajin melakukan pekerjaan itu," tambah Sugimin.
Anas Syahirul





