Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Amerika Serikat Pertanyakan Posisi NU
Kamis, 22 Maret 2007 | 20:03 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Amerika Serikat pertanyakan sikap Nadlatul Ulama berkaitan dengan masalah Iran dan Irak. Keingintahuan Amerika Serikat tersebut, menurut Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi disampaikan oleh Kuasa Tata Usaha Kedutaan AS di Jakarta John A Heffren. "Kita kan sedang berusaha untuk mengurai masalah yang membelit Palestina, Iran, Iran dan Libanon. Nah mereka ini ingin tahu maunya NU itu seperti apa," ucap Hasyim pada wartawan seusai menerima Heffren di kantornya, gedung PB NU Jakarta, Kamis petang (22/3).

Salah satu upaya NU untuk membantu penyelesaian masalah Irak ialah dengan menggelar dialog antara Sunni dan Syiah di Istana Bogor 3-4 April mendatang. Dialog ini rencananya akan dihadiri oleh 21 orang ulama dari Irak yang tahu banyak tentang permasalahan dan konflik di negeri seribu satu malam itu.

Hasyim mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Heffren yang berlangsung hampir satu setengah jam itu, dia telah menjelaskan mengapa NU berkonsentrasi membantu penyelesaian masalah Irak. "Saya sampaikan kepada Dubes AS bahwa NU tidak bekerja untuk Irak, Amerika Serikat, Saudi atau yang lain. Tapi NU bekerja untuk agama, bangsa, kemanusiaan, perdamaian dan keadilan," ucap Hasyim. Dia menekankan bahwa NU tidak memihak manapun dan tidak juga tidak pro atau kontra kepada sebuah negara atau region tertentu. Kalau langkah NU sekarang ini dinilai sebagai pergeseran NU ke arah kanan, Hasyim mengatakan itu hanya karena selama ini NU terlalu lama berada di kiri. "Sehingga ketika kita kembali ke tengah lalu dipandang bergeser ke kiri. Padahal tidak,"ucap Hasyim.

Apa yang dilakukan NU, menurut Hasyim, adalah bentuk dari sikap NU sendiri ketika melihat berbagai pertikaian yang bermotif politik, ekonomi dan hegemoni dijustifikasikan dengan agama. "Misalnya bagaimana isu Syiah dan Sunni telah digunakan untuk kepentingan yang sebenarnya diluar agama," ucapnya mencontohkan. Sebagai organisasi Islam terbesar didunia dan sebagai moderat, kata Hasyim NU tidak boleh diam. Karena kalau NU hanya diam maka NU telah membiarkan sebuah malapetaka.

Kepada Heffren, Hasyim juga menyampaikan bahwa NU tidak berpretensi untuk menyelesaikan masalah Irak ini secara utuh. Karena NU sadar bahwa faktor dari masalah di Irak itu sangat kompleks dan rumit. "Itu kan campur aduk dari faktor budaya, sekte, politik, kekuasaan, intervensi, intelegen, dendam, balas dendam sejarah yang menumpuk jadi satu," ucap Hasyim.

Tapi dengan adanya dialog Sunni-Syiah ini paling tidak NU bisa membantu mengurai duduk masalah yang sebenarnya seperti apa. Karena menurut Hasyim dorongan dari Indonesia ini sangat berpengaruh pada upaya pembentukan pemerintahan koalisi di Irak, "begitu yang disampaikan Khaleed Masshal pada saya saat bertemu 4 Maret lalu," ucapnya.

Saat ditanya apakahpPemerintah AS melalui Heffren menyampaikan permintaan khusus atau peringatan pada NU mengenai masalah itu, Hasyim mengatakan tidak. "Kita kan sudah sama-sama tuanya, sudah mengerti," ucap Hasyim.
Titis Setianingtyas

Dari Arsip Majalah TEMPO
Target Berjalan dari Italia | 14 Maret 2005
Kami Tidak Akan Menjiplak Iran | 21 Pebruari 2005
Kini Tiba Giliran Syiah | 14 Pebruari 2005
Pilih Paket, Bukan Platform | 31 Januari 2005
Kebangkitan Syiah 'Politik' | 31 Januari 2005
Clinton, 'Impeachment', dan Irak  | 22 Desember 1998
Dan Garda pun Kembali  | 02 Agustus 2004
Bagdad Dulu, Bagdad Sekarang  | 02 Agustus 2004
Tulah Perang Irak bagi Blair  | 19 Juli 2004
Zarqawi: Teroris atau Dalih | 25 Oktober 2004
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bom Pasar Buku Bagdad Bunuh 26 Orang
Demokrat Berusaha Cabut Mandat Perang Irak
Amerika Akui Blackhawk Tertembak Jatuh di Irak
Pasukan Elite Iran Beraksi di Irak
Bom Mobil di Kota Syiah, 17 Tewas
Hakim: Hanya Saddam yang Dieksekusi
Aktivis HAM Kecam Eksekusi Saddam
Saddam Hussein Telah Digantung
Perdana Menteri Irak Terancam Dibunuh
Bom di Dekat Gereja, 20 Tewas
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk96126 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Petani Nganjuk Temukan Benda Purbakala di Ladang
Kehilangan Hak Pilih, Ratusan Warga Wangaya Kelod Protes TPS
HP Luncurkan Tinta dan Toner Baru
Masak Pakai Sampah
Antre Minyak

<< March,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data