Indonesia Tolak Buka Pintu Perbatasan ke Timor Leste
Sabtu, 24 Maret 2007 | 13:34 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang: Pemerintah Indonesia menolak permintaan Timor Leste untuk membuka pintu perbatasan darat yang menghubungkan kedua negara.
Penolakan ini disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur Piet A Tallo dalam jumpa pers di Kupang, Sabtu (24/3). "Untuk sementara pintu perbatasan tetap ditutup. Belum ada ijin dari pemerintah pusat untuk membuka," kata Tallo.
Menurut dia, selama ini Indonesia selalu dijadikan kambing hitam dalam setiap aksi kerusuhan di negara itu sehingga pemerintah Indonesia belum bersedia membuka kembali empat pintu perbatasan darat yang ditutup sejak pekan ketiga Februari. "Kita tunggu saja keputusan Jakarta," katanya.
Sebelumnya, Konsulat Timor Leste di Kupang, Caetano de
Sousa Gutteres meminta agar Indonesia membuka pintu
perbatasan agar suplai kebutuhan pokok ke negara bekas
provinsi 27 Indonesia yang sebagian besar dipasok melalui wilayah perbatasan darat NTT dapat terpenuhi.
Permintaan resmi dari Timor Leste sudah disampaikan sejak 1 Maret, namun dengan berbagai pertimbangan, Indonesia belum bersedia memenuhi dengan alasan masih ada gejolak di negara itu.
Satuan Tugas Tentara Nasional Indonesia yang memiliki otoritas pengamanan perbatasan Indonesia menutup pintu lintas batas sejak 26 Februari 2007 menyusul serangkaian kekerasan yang berujung pada aksi perampasan senjata di Pos Polisi Nasional Timor Leste Unit Patroli Perbatasan di Salele, Distrik Covalima oleh pasukan pemberontak pimpinan Mayor Alfredo Reinado.
"Penutupan lintas batas berdampak buruk terhadap
perekonomian Timor Leste karena pasokan kebutuhan pokok menjadi terhambat dan masyarakat menjerit karena sulit mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari," katanya.
Berbagai sumber di Dili menyebutkan, negara miskin itu dalam kesulitan serius setelah harga beras terus melonjak. Beras dalam kemasan 50 kilogram kini dijual dengan harga 40 dolar AS atau setara dengan Rp 390 ribu.
Jems de Fortuna





