Keluarga Korban Tunggu Penjelasan Resmi TNI AD

Minggu, 25 Maret 2007 | 18:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Keluarga korban dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) menuntut TNI Angkatan Darat dan Kepolisian memberikan penjelasan resmi tentang penemuan puing helikopter Bolco, berkode registrasi BO-105 milik TNI-AD, di Desa Sumbeiken, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara.

"Kami menuntut penjelasan resmi," ujar Ori Rahman, anggota Divisi Pembelaan Hukum dan Perdamaian Kontras, yang turut kehilangan ayahnya dalam kecelakaan udara pada 22 Juli 1994 itu.

Ori menuntut kedua institusi tersebut juga menjelaskan tentang penyebab jatuhnya pesawat, yang selama ini dinilai ditutup-tutupi. "Mereka juga harus menjelaskan hasil otopsi yang benar dari hasil forensik, karena sekarang ditemukan kerangka lima jenazah," ujar Ori.

Menurut Ori, TNI menyatakan Helikopter tersebut di BKO (bawah kendali operasi)-kan kepada Kodam I/Bukit Barisan, dan pemberangkatan heli tersebut berdasarkan pada perintah Kodam I/BB. Padahal, kata Ori, berdasarkan kesaksian penyewa maupun foto-foto saat korban akan berangkat, helikopter yang digunakan merupakan milik TNI dengan nomor HS 7060, dan tujuan penyewaan tidak memiliki relasi dengan Kodam Bukit Barisan.

Bangkai helikopter itu pekan lalu ditemukan oleh warga di tempat yang sama dengan penemuan pertama pada 1996. Muncul dugaan kuat bahwa dalam penemuan pertama itu pihak TNI sengaja menyembunyikan beberapa fakta untuk menutupi adanya bisnis ilegal penyewaan helikopter. Karena itulah bangkai helikopter dan para korban tisak dievakuasi dengan benar.

Komandan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Arifin Seman kepada Tempo mengakui bahwa puing helikopter yang ditemukan warga di Deli Serdang beberapa hari lalu adalah heli yang sama pada penemuan tahun 1996. Pesawat naas tersebut mengangkut lima orang. "Sama, lima penumpang," ujar Arifin. Namun Arifin belum menjelaskan secara rinci tentang evakuasi dan identifikasi ulang dari Pusat Penerbangan Angkatan Darat. "Saya cek dulu di file kantor," ujarnya.

Juru bicara TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Ricardo Siagian menyatakan TNI Angkatan Darat masih akan memperjelas penemuan puing pesawat tersebut. Menurut Ricardo, meskipun puing-puing yang menunjukkan logo pesawat milik TNI Angkatan Darat sudah ditemukan, tetapi pihaknya masih akan mencari kepastiannya. "Belum clear. Kami menunggu pernyataan resmi dari pihak yang punya otoritas, apakah dari SAR atau kepolisian," ujar Ricardo. "Kan tidak bisa dipastikan secara visual saja."

Ricardo mengakui bahwa pesawat helikopter milik TNI Angkatan Darat hilang pada 22 Juli 1994 dan ditemukan April 1996 di Kabanjahe Sumatera Utara. Ia juga mengakui pilot dan kopilot pesawat tersebut menjadi korban. Tetapi dia mengaku tidak mengetahui tentang penumpang lainnya. Kepala Staf Angkatan Darat, kata Ricardo, masih akan menunggu perkembangan pemberitaan dari penemuan puing-puing Helikopter di Deli Serdang tersebut.


Anggota Komisi Pertahanan DPR Sidarto Danusubroto meminta TNI Angkatan Darat segera mengidentifikasi ulang puing-puing helikopter yang ditemukan warga beberapa waktu lalu tersebut. "Perlu dan harus segera dilakukan identifikasi ulang atas puing tersebut," ujar Sidarto dihubungi Tempo. Dian Yuliastuti






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: