Pemerintah Kurang Fokus Atasi Tuberkolosis
Selasa, 27 Maret 2007 | 20:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Umum Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) Ratih Siswono Yudo Husodo mengatakan Indonesia masih menduduki peringkat ketiga dalam jumlah kasus tuberkolosis terbanyak di dunia setelah India dan Cina.
"Sejak 1995 Indonesia masih pada posisi ketiga. Artinya tidak ada perubahan berarti yang dilakukan," katanya dalam jumpa pers di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (27/03).
Ia menilai, sebab utama tetap tingginya kasus tuberkolosis adalah karena ketidakfokusan pemerintah dalam menangani masalah ini. Ia mencontohkan, pemerintah yang selalu memberi perhatian lebih pada kasus penyakit baru dan terkesan melupakan kasus-kasus penyakit lama seperti tuberkolosis.
"Sekarang pemerintah memberi perhatian lebih pada flu burung, padahal tingkat kematian akibat tuberkolosis jauh lebih tinggi," katanya.
Hasil survei lembaganya menyebutkan, setidaknya 1 orang meninggal dalam 4 menit di Indonesia akibat tuberkolosis. Ia menambahkan, sejak 2002 ditemukan 582 ribu kasus baru setiap tahun.
Setahun kemudian, terdapat setidaknya 8,8 juta kasus baru dengan angka kematian mencapai 1,7 juta. Angka tersebut mulai menurun pada 2005. "Sekarang jumlah kasus yang ditemukan rata-rata sekitar 300.000 kasus per tahun," katanya.
Ia menambahkan, meski jumlah kasus tuberkolosis menurun, namun tingkat kerawanan terjangkit penyakit tersebut masih sangat tinggi. Ratih berharap pemerintah lebih serius menangani masalah tuberkolosis ini.
Dwi Riyanto Agustiar





