Indonesia Capai kesepakatan Dengan WHO

Rabu, 28 Maret 2007 | 05:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah dan badan kesehatan dunia (WHO) mencapai kesepakatan pengiriman contoh virus flu burung. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan badan kesehatan dunia setuju merubah mekanisme pengiriman virus. Sehingga, negara pengirim virus nantinya bisa memiliki akses terhadap pembuatan vaksin. "Kami akan secepatnya mengirim virus ke WHO, " katanya dalam jumpa pers usai pertemuan dengan badan kesehatan sejak kemarin di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (27/3)

Siti enggan menjelaskan detail persetujuan dengan badan kesehatan. Tapi menurut ia Indonesia dan badan kesehatan akan memperluas jaringan global untuk penelitian virus H5N1. Negara yang membuat vaksin juga akan membantu peningkatan kapasitas negara berkembang dalam membuat vaksin.

Badan kesehatan, kata Siti, juga tidak akan menyalahgunakan virus yang dikirim Indonesia. Negara yang akan membuat vaksin dari virus straine Indoensia juga harus meminta izin. "Saya kira, badan kesehtan tidak akan berani melanggar kesepakatan ini,' katanya.

Kesepakatan ini, jelas Siti, akan menjadi deklarasi Jakarta yang diresmikan besok. Deklarasi ini, akan menjadi dasar hukum pembuatan mekanisme baru di badan kesehatan. Mekanisme baru ini akan dibahas dalam sidang badan kesehatan Juni mendatang.

Sebelumnya, Indonesia menolak mengirimkan contoh virus H5N1 ke badan kesehatan. Alasannya, contoh virus digunakan oleh negara-negara lain untuk membuat vaksin tanpa izin dari Indoensia. Padahal pemerintah tak mengizinkan virus dikomersialkan.

Menurut Siti, badan kesehatan memang mengizinkan negara lain untuk membuat vaksin dari virus yang dikirim ke laboratorium mereka. Terhadap negara yang sudah mengembangkan vaksin, kata dia, pemerintah tak akan menuntut. "Memang mekanisme di WHO seperti itu, " katanya.

Siti menilai mekanisme yang digunakan WHO tidak fair dan transparan. Bahkan dia menilai mekanisme lama itu sangat berbahaya hingga melebihi pandemik flu burung. "Negara kaya yang menbuat vaksin akan tambah kaya, tapi negara miskin yang sakit akan tambah sakit," ujarnya.

Asisten Direktur badan kesehatan dunia untuk penyakit menular, David Heymann, menyambut baik persetujuan dengan Indoensia. "Tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk tak mengirimkan virus," katanya.

Dengan pengiriman virus, kata dia, ancaman terhadap kesehatan dunia dapat ditangani. "Apapun mekanismenya, WHO harus menjaga kepentingan dunia," katanya.

Pramono






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: