Basis NU Tergerogoti Organisasi Lain

Minggu, 01 April 2007 | 11:04 WIB

TEMPO Interaktif, Semarang:Basis pendukung organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) mulai berkurang karena digerogoti oleh organisasi keagamaan lain Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Berkurangnya basis pendukung itu, menurut penulis buku NU Studies Ahmad Baso, ditandai dengan beralihnya penguasaan masjid dan musala yang dimiliki warga NU oleh organisasi keagamaan lain tersebut.

"Ini karena anak-anak muda NU sering meninggalkan masjid dan musala. Padahal basis NU di kedua tempat itu," kata Ahmad Baso, dalam bedah buku itu di Semarang, kemarin.

Bedah buku ini diselenggarakan Semesta Institute yang bekerja sama dengan Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah dan Penerbit Erlangga Cabang Jawa Tengah.

Ahmad Baso belum bisa menyebut angka presentasi berapa umat NU yang sudah direbut oleh organisasi lain itu. "Sedang diteliti oleh Pengurus Besar NU," katanya.

Berkurangya basis NU ini, kata dia, harus segera diatasi oleh NU jika tidak ingin ditinggalkan pendukungnya. Menurutnya, anak-anak muda NU ini sebenarnya tidak boleh meninggalkan basis utama, yaitu melakukan kegiatan-kegiatan di masjid, musala dan pesantren.

Dia setuju saja jika anak-anak muda NU berkampaye tetang demokratisasi dan lain-lain yang dilakukan di hotel dan cafe. "Tapi jangan sampai meningalkan basis utamanya di masjid dan musala," katanya.

Mantan Duta Besar Qatar, Abdul Wakhid Maktub mengatakan bahwa saat ini mau tidak mau NU harus bisa menghadapi era global. "Jika selama ini NU sudah habat ditingkat lokal dan nasional, maka bagaimana NU bisa berperan dalam tingkat global," katanya.

Manurut Wakhid, peranan NU di tingkat global sebenarnya tidaklah mudah. NU harus kreatif dan bisa memadukan antara lokal dan global itu. "Agar NU tidak kehilangan identitasnya," katanya.

Wakil Ketua NU Jawa Tengah Dr Abu Hapsin mengatakan, buku NU Studies karya Ahmad Baso sangat luar biasa. Menurutnya, itu bisa dilihat dari landasan teori, adanya pendekatan sosiologis, pendekatan sejarah, kejujuran ilmiyah, dan pengungkapan fakta-fakta yang baru. "Buku ini sangat serius," kata Abu Hapsin.

Rofiuddin

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: