Kopilot Garuda Minta Pilot Berputar Agar Tidak Mendarat Terlalu Keras

Senin, 02 April 2007 | 01:28 WIB

TEMPO Interaktif, Canberra:Kopilot pesawat Garuda yang terbakar di Yogyakarta yang mengakibatkan 21 orang tewas, ternyata sempat meminta pilotnya untuk tidak langsung mendaratkan pesawatnya, karena khawatir pendaratan terlalu keras.

Menurut Tatang, kapten telah memiliki "cukup pengalaman" dengan lebih dari 15 ribu jam terbang, sedang kopilotnya adalah "pilot muda" yang baru mengantungi 2000 jam terbang.Hal itu diungkapkan oleh penyelidik KNKT dalam wawancara dengan salah satu televisi Australia.

Kopilot meminta pilot untuk berputar dan tidak langsung mendarat. Ia meminta agar pendaratan dilakukan kemudian, setelah berputar. Namun pilot memutuskan untuk segera mendarat dengan cepat dan kopilot hanya mampu sedikit berusaha untuk memperlambat lajunya.

Ketua penyelidik Tatang Kurniadi mengatakan, temuan utamanya dalam penyelidikan itu menyatakan bahwa penyebab musibah adalah masalah manusia (human error). "Saya khawatir kecelakaan itu terjadi karena hilangnya kontrol dari ruang kopkit (karena pertikaian)," kata Tatang kepada Nine Network.

Dalam rekaman audio dari ruang kopkit terdengar pilot dan kopilot berdebat soal kecepatan dan sudut kepakan sayap, hanya beberapa saat sebelum kecelakaan, kata Tatang.

Kapten dan kopilot termasuk di antara 119 orang yang selamat dalam peristiwa itu. Mereka baru pertama kalinya terbang bersama pada 7 Maret dari Yogyakarta dengan menggunakan Boeing 737-400 itu.

ABC






Komentar Anda

Kirim