|
Dukungan Indonesia Pada Resolusi 1747 Persulit Konferensi Sunni-Syi'ah
Senin, 02 April 2007 | 20:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ulama, Hasyim Muzadi pesimis terhadap keberhasilan Konferensi Pemimpin Islam Internasional yang akan diselenggarakan di Istana Bogor besok. "Saya berharap konferensi ini akan mencapai sasaran sesuai dengan rencana dan sukses, sekalipun tampaknya sulit sekali," katanya, Senin (2/3).
Dalam siaran persnya Hasyim mengatakan kesulitan itu muncul karena sikap Indonesia yang mendukung resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB tentang sanksi Iran. Sikap itu telah menyebabkan persyaratan bagi terselenggaranya konferensi yang ditujukan untuk membantu penyelesaikan konflik Sunni-Syi'ah ini teringkari.
Saat rencana penyelenggaraan konferensi ini ditawarkan, para ulama Sunni-Syi'ah dari berbagai negara menyatakan akan hadir bila Indonesia benar-benar netral atau independen. Selain itu juga harus punya akses ke PBB agar hasil konferensi ini hasilnya mendapat perhatian PBB. Dan yang terakhir Indonesia harus serius dengan sosialisasi hasil konferesi, tidak seperti konferensi sebelumnya yang diselenggarakan berbagai Negara namun tidak effektif.
"Nah, setelah Indonesia menyetujui resolusi Dewan Keamanan PBB tentang sanksi Iran, tentu syarat-syarat tersebut menjadi bubar. Para ulama menganggap Indonesia telah berpihak," ucap Hasyim.
Sekalipun pemerintah mengatakan justru itulah sikap bebas aktif pemerintah Indonesia, tapi kenyataannya sikap itu benar-benar akan mempersulit konferensi ini. Ketidakpercayaan mulai bermunculan dari para ulama yang diundang. "Pertama kali yang tidak percaya tentu Iran dan ulama negara tersebut," kata Hasyim.
Hasyim juga mengkritik Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa negara Arab baik-baik saja ke Indonesia setelah resolusi DK PBB. Menurutnya ada dua faktor mengapa yang terlihat demikian, banyak negara Arab justru senang kalau tetangganya dapat musibah karena pertimbangan praktis, politis dan ekonomis. Dan kalau Wapres mengaku dapat dukungan dari Lebanon, itu karena Lebanon adalah Negara "unik multi sektarian" mungkin yang ketemu itu tidak suka terhadap Iran (Syi'ah).
Titis Setianingtyas
INDEKS BERITA LAINNYA :
|