Akbar: Pemerintah Tak Perlu Takut Interpelasi

Selasa, 03 April 2007 | 11:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Ketua DPR, Akbar Tandjung menilai interpelasi penting diteruskan untuk mendapatkan kejelasan dari pemerintah mengenai alasan dan latar belakang dukungan terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Pemerintah juga diminta tak terlalu takut dengan interpelasi yang sudah ditanda tangani 282 anggota dewan itu.

Menurutnya sikap pemerintah Indonesia tidak konsisten karena pada awalnya mendukung program nuklir damai Iran namun secara tiba-tiba berubah. “Pemerintah seolah-olah merubah kebijakan apalagi ada rumor telpon Presiden Bush ke SBY,” katanya dihubungi Tempo Selasa (03/04).

Menurutnya jika penjelasan pemerintah rasional dan bisa dipahami maka anggora dewan pasti akan mengerti. “Ini malah menunjukkan pemerintah yang terbuka, demokratis, akuntable, itu sangat sehat” ujarnya.

Dia menyesalkan sikap pemerintah yang berusaha menjegal interpelasi. “Belum apa-apa sudah menjegal, seolah-olah pemerintah tidak menghormati demokrasi,” imbuh Akbar.

Akbar juga menilai banyak persoalan yang layak untuk diinterpelasi. “bukan hanya soal Iran,” katanya. Hanya menurutnya isu tersebut yang dianggap penting oleh semua fraksi sehingga persoalan tersebut yang didahulukan.

Terkait dengan isu interpelasi yang digunakan oleh pihak tertentu untuk mendesak resuffle kabinet, Akbar menilanya terlalu jauh. Dia berpendapat interpelasi tidak bisa digunakan untuk mendesak resuffle. “itu hak prerogatif Presiden,”. Lebih lanjut politikus senior ini menyarankan agar interpelasi dijalankan secara murni bukan sebagai sarana manuver politik untuk tujuan yang lain

Mengenai perpecahan ditubuh golkar menanggapi interpelasi Akbar menilainnya sebagai ha yang normal. “itu biasa saja,” katanya. Dia mengharapkan agar Golkar melihat persoalan tersebut secara dewasa. “Beri kesempatan anggotanya untuk berkreasi dan berkembang, tidak perlu dihalang-halangi” urainya.

Saat kembali didesak mengenai adanya kubu di Golkar yang menginginkan resuffle kabinet Akbar kembali menilai terlalu jauh. “'Harus dihilangkan pikiran-pikiran itu resufle bisa-bisa saja namun tidak semudah itu,” pungkasnya. Gunanto ES

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: