|
Deklarasi Bogor Amanatkan Penarikan Pasukan Koalisi AS Dari Irak
Rabu, 04 April 2007 | 21:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Konferensi Pemimpin Umat Islam Dunia di Bogor menghasilkan sebuah kesepakatan yang disebut Deklarasi Bogor. Delakrasi yang dibacakan oleh delegasi Yordania Prof esor Abdul Salam Al-Abadi ini berisikan 6 pernyataan.
Salah satu poin poin penting dari deklarasi ini adalah perintah agar pasukan koalisi Amerika Serikat keluar dari Irak. "Konferensi ini menegaskan sangat pentingnya penarikan pasukan koalisi yang dipimpin oleh AS di Irak," ucap Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda saat konferensi pers seusai penutupan konferensi yang dihadiri oleh 19 peserta ini.
Penarikan pasukan koalisi AS ini akan diikuti dengan pembentukan pasukan penjaga perdamaian dari negara-nagara muslim. Karena bagaimanapun juga masalah Irak adalah masalah bagi seluruh negara muslim dunia. "Namun kita juga tidak menginginkan kekosongan dalam masa peralihan itu, karena kalau itu terjadi Irak akan lebih tercabik-cabik," ucap Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi di tempat yang sama.
Dukungan pemerintah Indonsia terhadap penarikan pasukan AS ini bahkan telah dinyatakan jauh-jauh hari sebelumnya. Menurut Menlu, Presiden SBY pada November lalu telah mengusulkan "triple track solution" bagi persolan Irak, yaitu rekonsiliasi nasional, penarikan pasukan koalisi yang dipimpin AS untuk digantikan pasukan dari negara-negara Islam serta rekonstruksi dan rehabilitasi Irak.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsudin bahkan meminta Indonesia malakukan langkah persuasive agar Amerika Serikat bisa segera hengkang dari Irak. Karena pada perkembangannya konflik Irak telah memicu radikalisme dalam dunia Islam. "Makin lama AS bercokol di Irak makin luas radikalisme dalam dunia Islam yang timbul," ucapnya.
Namun sayangnya konferensi ini masih belum bisa menemukan mekanisme yang tepat untuk membawa keluar pasukan koalisi AS dari Irak. Para ulama yang hadir hanya mmenegaskan agar proses penarikan pasukan koalisi AS dari Irak dapat dilakukan segera dengan cara damai. Sehingga tidak memperuncing dan mencabik-cabik rakyat sipil Irak .
Alwi Shihab utusan khusus Presiden RI untuk Timur Tengah mengaku susah menjawab bagaimana proses riil upaya penarikan itu. Begitu juga dengan jangka waktunya, sehingga harus ada timetable yang jelas untuk mempermudah proses ini. Hanya saja para peserta konferansi, kata Alwi meminta agar negara yang mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Irak nanti adalah negara-negara non Arab. Alasannya karena di Arab sendiri anggapan akan adanya kepentingan negara-negara tertentu di Irak masih ada.
Deklarasi Bogor selain bicara tentang penarikan pasukan koalisi AS juga menekankan pentingnya dialog dalam penyelesaian konflik di Irak. Dialog yang diarahkan para rekonsiliasi ini hendaknya dilakukan bukan hanya secara golongan, nasional, regional tapi juga internasional. OKI juga diminta untuk berperan banyak dalam sosialisasi serta menggalang dukungan bagi deklarasi Bogor ini. Para ulama senior ini bahkan memutuskan untuk mengundang media sebagai jalan menghindar dari fitnah Amerika Serikat.
Lebih khusus mengenai sosialisasi deklarasi konferensi ini memberi amanat pada pemerintah Indonesia, NU dan Muhammadiyah menyampaikannya pada pemerintah Irak, masyarakat maupun lembaga internasional serta PBB. Mereka juga menyapakati untuk secara intensif menyampaikan hasil konferansi ini pada masyarakat Irak, bahkan mengirim misi pencari fakta yang terdiri dari para pemimpin Islam.
Titis Setianingtyas
INDEKS BERITA LAINNYA :
|