Wakil Presiden Lakukan Kunjungan Mendadak ke IPDN
Sabtu, 07 April 2007 | 23:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla mendadak mengunjungi Insitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) setelah menjadi dosen tamu dalam kuliah umum di Insitut Teknologi Bandung (ITB). “Tiba-tiba saja, kebetulan ada acara di ITB,” katanya di Kampus IPDN, Jatinangor Sumedang, Sabtu (7/4).
Di kampus itu Kalla mengunjungi Barak DKI yang berhadapan dengan Barak Jabar di sisi bagian barat kampus itu. Kalla memasuki barak yang menjadi lokasi pembinaan Cliff Muntu, praja yang menjadi korban kekerasan seniornya hingga menewaskan menyebabkan tewas.
Dalam gelaran konfrensi pers usai kunjungan dadakan itu, Kalla mengatakan, lembaga pendidikan yang mencetak generasi muda di bidan pemerintahan ini masih dibutuhkan. “Semua negara yang besar butuh pendidikan khsusus seperti ini, keadaan IPDN ini sesuatu yang sangat penting,” katanya.
Terhadap desakan untuk membubarkan insitusi itu, Kalla tidak setuju. “Jangan ada lumbung, dia punya tikus, lumbungnya kita bongkar. Tikusnya saja yang kita cari. Kalau faham ini kita turuti, nanti seluruh Indonesia tidak akan ada lagi organisasi. Yang salah dicari, bukan institusinya yang dibubarin.”
Kalla mengatakan, sistem pendidikan IPDN sudah berbeda dibandingkan dulu sebelum reformasi kampus itu paska terungkapnya kematian Wahyu Hidayat pada 2003 lalu. “Sistemnya sudah bagus, hanya pelaksanaan sistem itu sendiri. Aturan sudah jauh lebih baik disbanding dulu,” katanya.
Menurutnya, tindak kekerasan yang menewaskan Cliff Muntu menandakan sifat keras di internal IPDN belum habis seratus persen. Kendati, dia yakin, intensitasnya sudah menurun. Yang disajikan di televisi, katanya, merupakan kejadian empat tahun yang lalu. “Pasti secara umum sudah tidak begitu lagi.”
Kalla mengatakan, kejadian yang menewaskan Cliff Muntu terjadi karena adanya penyimpangan terhadap peraturan. Kalla meminta pihak kampus IPDN dan mahasiswanya terbuka. “Jangan jadikan kampus ini sebagai daerah kerajaan sendiri, hokum sendiri, harus berlaku hokum umum. Apalagi kalau jadi camat mereka harus terbuka. Jangan biasakan mereka jadi tertutup,” katanya.
Di tengah gelaran konfrensi pers itu, Kalla menodong pertanyaan pada praja IPDN yang ada di Gedung Wahana Eka Bhakti – gedung utama kampus itu. Dia menanyakan masih adakah kekerasan yang dilakukan secara terbuka seperti yang terjadi sebelum tahun 2003. Praja berkooor menjawab tidak.
Namun pertanyaan selanjutnya para Praja mendadak terdiam. “Sekarang sudah ndak ada lagi (kekerasan yang terbuka, (senior) panggil you dan pukul-pukul? Kalau gelap-gelap ada?” tanya Kalla.
Untuk mencegah berulangnya kejadian itu, Kalla meminta agar di dalam kampus itu dipasang kamera pengawas atau CCTV di setiap sudut kampus itu. “Mungkin pasang 100 ndak apa-apa demi mengawasi (praja),” katanya. Selain itu, Kalla juga menyinggung kemungkinan menaruh pos polisi di dalam kampus untuk mengawasi praja.
Sebelumnya sekitar pukul tiga sore, pihak IPDN kembali menggelar Apel Luar Biasa Penjatuhan Hukuman Disiplin pada tiga praja yang menyusul menjadi tersangka kasus Cliff Muntu. Mereka adalah Frans A Yoku, Hikmat Faizal, dan Ari Fahmi Harahap. Upacara pemecatan itu dilakukan in absentia, karena tiga praja itu ditahan oleh pihak kepolisian. ahmad fikri





