Pendidikan Bergaya Militer Harus dihilangkan

Minggu, 08 April 2007 | 10:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bambang Widodo Umar, Dosen Pascasarjana Kajian Ilmu kepolisian Universitas Indonesia menilai gaya militer yang diberlakukan disekolah-sekolah dinas harus dihilangkan. "Itu gaya orba (orde baru)," katanya dihubungi Tempo Minggu (08/04).

Pengamat kepolisian ini mengatakan pola pendidikan yang terintervensi militer ini mulai diterapkan sejak zaman orba sebagai imbas dari dwi fungsi ABRI. "Tujuannya untuk menerapkan disiplin," ujarnya. Namun menurut Bambang disiplin yang diterapkan di militer samasekali berbeda dengan disiplin sipil.

Disiplin militer adalah disiplin mati yang bersifat instruktif. "harus patuh dan taat," katanya. Sementara disiplin sipil adalah disiplin hidup yang didalamnya ada proses dialog, kemitraan dan saling membantu. "ini berkaitan dengan pola hubungan di masyarakat yang bersifat patnership," tambahnya.

Maka dari itu Bambang menilai pendekatan pendidikan pamong harus bersifat patnership. "Pamong yang dididik dengan militer nantinya akan mengandalkan kekerasan," katanya.

Selain itu, mantan aparat kepolisian ini juga sependapat jika sekolah-sekolah dinas dibubarkan saja. Menurutnya, aparat pemerintah lebih baik jika diambil dari universitas-universitas saja. Selain efektif, kata dia negara juga akan lebih berhemat. "sekolah dinas hanya menghabiskan duit," katanya. Gunanto ES






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: