Rumah Sakit Jayapura Kehabisan Stok Obat HIV
Rabu, 11 April 2007 | 07:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jayapura:
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, Papua, menyatakan kehabisan stok obat bagi para pengidap virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan AIDS.
Menurut Siti N Soltief, yang bertugas di bagian test dan konseling gratis untuk HIV/AIDS di rumah sakit itu, habisnya persediaan ini akan berimplikasi buruk bagi para penderita penyakit mematikan itu,
“Mereka harus secara rutin mengkonsumsi obat ini untuk bertahan,” katanya Rabu (11/4) pagi ini. Jenis obat yang habis itu adalah Efavirens, yakni salah satu dari lima jenis obat Anti Retro Verin (ARV), yang selama ini disediakan secara cuma-cuma bagi ribuan penderita HIV/AIDS di Jayapura.
“Jenis obat Stavudin dan Efavirens pada Oktober tahun lalu juga sempat habis,” kata Siti. Setelah ada permintaan, Departemen Kesehatan di Jakarta mengirimkan stok baru Stavudin. “Tapi jenis Efavirens tak kunjung tiba sampai hari ini,” katanya.
Pencarian stok, Siti menjelaskan, telah pula diupayakan dengan menghubungi berbagai pihak di Papua, mulai dari rumah sakit, lembaga farmasi, dan dinas kesehatan daerah. “Tapi mereka juga mengatakan stoknya kosong. Permintaan ke pemerintah pusat pun belum ada jawaban.”
Saat ini Siti, yang juga mempunyai rumah singgah bagi orang dengan HIV/AIDS di Jalan Ayapo no 12, Abepura, masih berharap bisa mendapatkan bantuan dari RSUD Abepura atau Rumah Sakit Dian Harapan di Jayapura. “Mudah-mudahan ada.”
Sebab kalau tidak, katanya, 9 pasien dari 41 pasien yang berobat ke pusat konseling RSUD Dok II Jayapura dan terbiasa minum obat ARV dengan kombinasi Efavirens ini akan mengalami akibat fatal. Sedangkan pengantian Efavirens dengan jenis obat lain seperti Nevirafin memiliki efek sangat bahaya.
“Bisa merusak organ hati,” katanya.
Direktur RSUD Dok II Jayapura Dr Paulina Watopa menambahkan, saat ini pihaknya sangat kesulitan mendapatkan jenis obat ini. Padahal, katanya, hal seperti ini tak pernah dialaminya ketika Provinsi Papua membeli sendiri stok obat ARV. “Tapi setelah diambil alih Jakarta sejak 2003, akses untuk mengontrol persediaan obat di Jayapura jadi makin sulit,” ujarnya.
Cunding Levi





