Dua Desa di Sumba Barat Positif Antraks
Jum'at, 13 April 2007 | 15:49 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang:Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur NTT), mengisolasi dua desa setelah memastikan ternak di kedua wilayah itu terinfeksi antraks. Hasil uji laboratorium Direktorat Jenderal Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan, terhadap sample daging sapi, kuda dan kerbau yang diperiksa beberapa hari lalu terbukti positif mengandung bakteri bacillus antracis atau bakteri penyebab antraks.
Sample daging tersebut diperiksa menyusul tewasnya lima warga Desa Kapaka Madeta dan Desa Kawangohari, usai mengkonsumsi daging sapi yang sudah mati, akhir Maret lalu. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di dua desa itu dan beberapa instansi terkait berupaya melakukan vaksinasi dan pengobatan total terhadap ribuan ekor ternak berdarah panas seperti sapi, kambing, babi, kerbau, domba, rusa, kuda dan satwa liar lainnya.
Kepala Sub Bagian Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTT, Maria Geong, yang dihubungi di Kupang, Jumat (13/4), mengatakan antraks merupakan salah satu penyakit paling mematikan bagi manusia, selain flu burung dan rabies. "Penyakit ini sangat berbahaya. Bila warga mengkonsumsi daging ternak yang mengandung bakteri antraks, harapan hidupnya menjadi sangat kecil," katanya.
Serangan antraks di Sumba Barat ini terjadi di luar perkiraan, karena terakhir kali kasus serupa terjadi di daerah itu pada tahun 1939. "Kemungkinan besar spora yang berfungsi melindungi bakteri tersebut muncul ke permukaan tanah karena banjir atau kekeringan panjang,” kata Maria. Sebab, ia menjelaskan, biasanya spora bakteri antraks hidup di bawah tanah dan bertahan hidup sampai 60 tahun.
Menurut catatan Dinas Peternakan NTT, riwayat antraks mulai terjadi pada kurun waktu 1906 – 1957, di mana wabah tersebut terjadi di pulau Sumba, Flores Timor dan Rote. Hewan yang diserang yakni sapi, kerbau, kuda, kambing dan babi.
Kemudian pada tahun 1954, wabah antraks kembali terjadi di Kabupaten Ngada, Kecamatan Aesesa, dan menyebabkan kematian ratusan ekor kuda, kambing dan domba. Kasus terakhir terjadi pada tahun 1987 Pulau Sabu, Kabupaten Kupang. Mengakibatkan kematian puluhan ternak sapi, kerbau.
kambing, domba dan babi. Wabah juga merenggut nyawa seorang warga dan puluuhan lainnya menderita penyakit yang disebut malignat pustule (karbunkel).
"Catatan kami, sampai dengan saat ini, korban tewas di NTT akibat antraks mencapai 40 orang," Maria menambahkan.
Secara klinis, infeksi antraks menyerang sebagian hewan berdarah panas. Penularan pada manusia hanya terjadi apabila ada kontak fisik antara manusia dengan hewan yang mengandung spora antraks. "Antraks juga dapat tertular ke manusia karena menghirup udara yang mengandung spora antraks atau mengkonsumsi daging dari ternak mati yang terserang bakteri ini," ujar Maria.
Hewan yang menderita antraks antara lain ditandai dengan demam tinggi, gelisah, sesak napas, kejang dan diikuti dengan kematian. "Gejala lainnya ialah darah segar keluar dari mulut, telinga dan dubur atau alat kelamin." Jems de Fortuna





