close

15 Persen Mahasiswa Pelaku Seks Bebas

Kamis, 19 April 2007 | 13:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Koordinator Kesehatan Reproduksi Jaringan Epidomologi Nasional, Prof Charles Surjadi mengatakan 15 persen dari 2.224 mahasiswa di 15 Universitas negeri dan swasta telah biasa melakukan hubungan seks diluar nikah.

"Sekitar 1 hingga 2 persennya melakukan aborsi," katanya kepada Tempo disela acara Seminar Kesehatan Seksual Mahasiswa, di Pusat Studi Jepang Kampus Universitas Indonesia, Kamis.

Ia menambahkan, survei perilaku seksual mahasiswa yang dilakukan tahun lalu itu mengelompokkan perilaku seksual menjadi empat kategori, yaitu kissing (ciuman), necking (berpelukan), petting (bercumbu), dan intercourse
(hubungan badan). Dwi Riyanto Agustiar

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [3] :

  • Seks? gaya hidup

    Saya mungkin dapat membenarkan dan mempercayai, bahwa 15% mahasiswa pelaku seks bebas. bahkan bisa dipastikan lebih dari itu.

    yang harus di perhatikan adalah bagaimana kita membendung perilaku seks bebas itu agar tidak lebih jauh lagi meluas.

    kerjasama dari berbagai pihak mungkin bisa membantu. disamping itu, seks bebas memang merupakan gaya hidup yang di adopsi dari negeri orang, jadi memang sulit untuk membendungnya. tetapi setidaknya kita harus bisa mampu mencegah itu.

  • Keterkaitan orang tua

    tidak semua ji juga...tergantung hubungan antara orang tua dengan anak itu...keterbukaan antar mereka...
    mungkin salah juga ada orang tua yang buta saat anaknya mendekati seks bebas...itu mungkin karena kurangnya kesadaran mereka apa yang telah terjadi...tapi itu jadi salah anak juga kalau sudah tau itu salah malah tetap aja ngelakuin itu...

  • Agama 'mati' suri

    Orang tua tabu bicara seks tp melihat anaknya mendekati seks 'matanya buta' contoh : dengan bangganya ortu jika anaknya berpelukan dibonceng tp jika sdh hamil semua keluarga mau mati, Gayanaji.

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan