Sejumlah Tokoh Hadiri Pemakaman Ketua Dewan Dakwah

Kamis, 19 April 2007 | 20:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah tokoh dan aktivis organisasi Islam ta'ziah di Masjid Al Furqan, Kramat Raya, Jakarta, atas meninggalnya Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII), Husein Umar, Kamis (19/4) siang.

Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, Abubakar Baasyir, bekas Menteri Negara Urusan Pangan dan Hortikultura AM Saefuddin, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, bekas Menteri Agama Tarmizi Thahir, mantan Kepala BIN Hendropriyono, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif, anggota DPR chozin Chumaedi, juga ketua FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, serta ratusan orang turut memberikan doa. Mereka juga tampak salat ghaib berjamaah.

Dalam sambutannya, menteri Maftuh mengatakan sempat membesuk Umar saat sedang dirawat di rumah sakit Kuala Lumpur, Malaysia. Ia mengaku terkesan dengan perjuangan Umar menegakkan Islam. Ia pun berharap ketulusannya, kesederhanaan, dan kejujuran dapat diikuti. "Mari ikuti perjuangannya untuk Islam," kata Maftuh sambil terisak saat melepas kepergian Umar.

Wakil ketua DPR Zaenal juga menyatkan belasungkawa kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Ia yakin generasi muda banyak yang akan mengikuti perjuangannya. "Anak-anak muda pasti ingin mengikutinya," katanya.

Ketika bertemu dengan TEMPO, Yusril Ihza Mahendra sempat menyatakan kenangannya bertemu dengan almarhum. “Saya mengenal beliau sejak 1970-an, ketika mahasiswa. Beliau adalah tokoh yang teguh dalam berpendirian,” ujarnya.

Menurut Din Syamsuddin, kepergian almarhum merupakan kehilangan bukan saja bagi DDII, juga umat Islam, dan bangsa Indonesia. Lelaki kelahiran Bali itu, kata Din, adalah tokoh Islam yang istiqomah dalam memegang nilai-nilai Islam. “Beliau berani berkata benar dan melawan kebatilan. Ini warisan mahal dan sangat langkah,” jelasnya.

Din berharap sepeninggal almarhum, umat Islam dapat melahirkan tokoh seperti dia. Almarhum dikenal Din sebagai pemimpin bersahabat, memiliki pergaulan luas, lintas agama, dan kelompok lain. “Ini sebuah sikap mulia. Dia terbuka terhadap siapa saja,” katanya.

Sementara itu Abu Bakar Baa'syir ketika ditemui TEMPO sempat memberikan kenanganya. “Saya mengenal beliau ketika reformasi 1998 lalu,” katanya. Meskipun demikian, Baa'syir sangat terkenang dengan alamarhum. “Beliau kerap mengunjungi saya di penjara. Ketika keluar, almarhum adalah orang pertama yang menyambut saya,” ujarnya.

Baa'syir sangat menghargai perjuangan almarhum ketika menjadi anggota MPR, terutama perlawanan terhadap pemerintah yang mengharuskan semua organisasi Islam harus berzasakan Pancasila. “Beliau istiqomah dalam perjuangan,” imbuhnya. Baa'syir berdoa agar umat Islam Indonesia segera mendapatkan pemimpin sekaliber dia.

AM Saefuddin juga sempat menyampaikan kesannya terhadap almarhum. “Beliau sangat kuat dalam perjuangan dan istiqomah. Semoga dapat dicontoh oleh adik-adik seperjuangannya,” katanya.

CHOIRUL AMINUDDIN, AQIDA SWAMURTI

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: