Dokter: IPDN Menolak Otopsi

Jum'at, 20 April 2007 | 22:22 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Dokter Rumah Sakit Al-Islam dr Beny Benardi mengatakan, IPDN menolak otopsi jenazah mahasiswanya Cliff Muntu yang tewas dianiaya seniornya. "Saya bilang tidak perlu takut untuk otopsi, dengan otopsi kematian yang wajar juga bisa diketahui," katanya di Mapolda Jawa Barat, Jumat (20/4),

Menurutnya, saran itu telah disampaikan pada pihak lembaga IPDN yang datang ke rumah sakti itu untuk mengurus jenazah Cliff Muntu.

Benny mengatakan, saran untuk otopsi itu di antaranya disampaikan pada Kepala Bidang Pengasuhan Ilhami Bisri. "Saya baru tahu (dia) dari koran," katanya.

Sebelumnya, Benny mengaku hanya bisa memberikan ciri-ciri para pegawai IPDN yang hadir malam itu karena tidak tahu nama-nama mereka. Bisri, katanya, menerima kematian Cliff Muntu sebagai musibah. "(Dia) secara tidak langsung menolak otopsi dengan mengatakan hanay menerima sebagai musibah," katanya.

Benny diperiksa untuk kedua kalinya oleh penyidik Polda Jawa Barat pada Jumat (20/4). Dia diperiksa sejak pukul 10.00 WIB dan baru berakhir menjelang pukul 17.00 WIB. Dia ditanya sebanyak 22 pertanyaan oleh penyidik polsii seputar pemberian suntik formalin pada jenazah Cliff Muntu. Pada pemeriksaan sebelumnya dia ditanyai sebanyak 47 pertanyaan seputar hal yang sama.

Dia merupakan dokter jaga rumah sakit itu yang merawat Cliff Muntu ketika tiba di ruang Gawat Darurat tepat tengah malam. Selama 15 menit dia bersama paramedis lain mengusahakan perawatan, kendati Cliff Muntu sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Akhirnya Cliff Muntu dinyatakan meninggal pukul 00.15 WIB.

Benny membuatkan Surat Keterangan Kematian yang berisi waktu kematian praja IPDN itu. Pemberian surat itu karena ada permintaan IPDN untuk membawa jenazah Cliff Muntu ke Manado.

Beny mengaku tidak berbincang-bincang dengan tersangka Profesor Lexie M Giroth pada malam itu. ”(Lexie) hanya mengenalkan diri sebagai siapa dia,” katanya.

Ahmad Fikri

TOPIK






Komentar Anda

Kirim