|
Latihan Militer di Indonesia, Singapura Harus Minta Ijin
Selasa, 24 April 2007 | 00:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Singapura harus meminta ijin Indonesia jika militernya berlatih di wilayah Indonesia. Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan, Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, mengatakan ketentuan itu tercantum dalam perjanjian kerjasama pertahanan (defence cooperation agreement).
“Tidak ada lagi latihan militer tanpa ijin jika berada di wilayah Indonesia,” katanya dalam jumpa pers di Gedung Departemen Pertahanan, Jakarta, Selasa (24/4).
Perjanjian itu akan ditandatangani di Istana Tampak Siring, Bali, pada Jumat, 27 April mendatang. Selain perjanjian itu, ditandatangani juga perjanjian ekstradisi.
Singapura, kata Sjafrie, juga harus meminta ijin jika mengadakan latihan militer dengan negara lain di wilayah Indonesia. Pemerintah tak ingin ada negara lain yang memasuki wilayah Indonesia tanpa ijin. “Ya kalau negara itu punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kalau tidak?” katanya.
Selama ini, ia menjelaskan, Indonesia sering dirugikan dengan perjanjian kerja sama di bidang pertahanan. Misalnya, Singapura bebas menggunakan wilayah latihan militer Indonesia sewaktu-waktu tanpa ijin. Negara itu juga bisa mengajak negara lain untuk latihan militer di wilayah Indonesia. Wilayah latihan itu antara lain di antara Selat Singapura-Selat Malaka, di sebelah utara laut Cina Selatan, dan Pulau Kayuara di sebelah utara Pulau Bintan.
Menurut Sjafrie, perjanjian yang akan ditandatangani akan menguntungkan bagi dua negara. Yang paling utama, kedaulatan Indonesia diakui oleh Singapura. “Sekarang, kita yang menentukan mana yang boleh, dan mana yang tidak. Kedaulatan teritorial kita jadi terjaga,” katanya.
Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan, Yuwendi, mengatakan bahwa perjanjian itu sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Sekarang, perjanjian itu akan dievaluasi setiap lima tahun.
Yuwendi juga mengatakan bahwa Indonesia seringkali dirugikan dengan latihan militer Singapura. Tapi, kerugian itu lebih banyak disebabkan ketidaksiapan alat tempur Indonesia. “Setiap kita latihan bersama, kita hanya melihat saja. Misalnya, kapal Singapura latihan menembak, tapi kapal kita tidak siap, dan tidak ikut menembak,” katanya.
Pramono
INDEKS BERITA LAINNYA :
|