Akibat Sengketa Tanah, Kantor Pusat GMKI Disekat
Rabu, 25 April 2007 | 08:13 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kantor Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Jalan Salemba Raya 10 flat 21 Jakarta Pusat disekat oleh 40 orang. Mereka datang dengan menumpang dua buah metro mini sekitar pukul 00.50 dini hari tadi, Rabu (25/4).
"Mereka mengaku orang suruhan PT Kencana Indotama Persada," kata Sekretaris PP GMKI, Mambe Rumakiek kepada Tempo Rabu (25/4). Dia mengaku, organisasinya memang sedang mempunyai masalah sengketa tanah dengan perusahaan itu.
Sekat terbuat dari seng yang dilapisi dengan kawat berduri. Sampai pagi ini sejumlah orang suruhan tersebut tinggal di sebagian kantor GMKI. "Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan, bisa saja merusak," kata Mambe.
Mambe merasa terganggu dengan penyekatan ini karena sudah memasuki wilayah kantornya. Beberapa ruang, termasuk ruang rapat pun sudah mereka kuasai. "Saya minta, ini kan masih sengketa, jadi tunggulah keputusan pengadilan," ujarnya.
Kasus sengketa tanah ini muncul pada tahun 2006 lalu ketika PT Kencana mengklaim tanah yang ditempati oleh GMKI. "Kami sudah mengajukan gugatan ke pengadilan, tetapi belum putus," katanya.
Atas sengketa tersebut, lanjut Mambe, perusahaan tersebut juga pernah mengirim orang suruhan untuk merusak kantor GMKI pada tanggal 10 Januari lalu. Saat itu mereka membongkar atap dan sejumlah pintu serta jendela. Namun, dengan bantuan aparat mereka dapat diusir.
Setelah itu, PT Kencana membangun tembok beton di luar kantor GMKI. Tembok tersebut membatasi tanah milik PT Kencana dengan tanah yang masih disengketakan dengan GMKI. Namun, Hari Senin (23/4) kemarin tembok tersebut dirobohkan oleh sekelompok orang. Dan tadi malam, sekat justru dibangun hingga memasuki kantor GMKI.
Indriani Dyah S
TOPIK
Komentar Anda
- PENDAPAT
kok kita semua melihat bahwa tidak ada bantuan dari para alumni GMKI untuk membantu, padahal kita tau bahwa mantan anggota GMKIkan banyak yang sukses. dimana perjuangan mu para mantan anggota GMKI!!!!!!!!!!
Pengirim : herbert di jakarta selatan





