Inu Kencana Peroleh Penghargaan Stop Bullying

Sabtu, 28 April 2007 | 18:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Inu Kencana, dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), memperoleh penghargaan dari Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) karena dianggap konsisten menolak tindak kekerasan di lingkungan institusi pendidikan.

Penghargaan diserahkan dalam "Workshop Nasional: Intervensi Efektif untuk Mengurangi Bullying di Sekolah", Sabtu (28/7). Workshop dihadiri 350 orang peserta yang terdiri dari perwakilan pelajar, pendidik, orangtua murid dan juga lembaga pendidikan nasional dan internasional.

Dengan mengenakan kemeja hijau muda dan celana warna coklat gelap, Inu naik ke atas panggung. Ia menerima plakat penghargaan dan rangkaian bunga dari Ketua Yayasan Sejiwa, Dienna Haryana. Menurut rencana pengahargaan akan diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.

Menurut Dienna, alasan SEJIWA memberikan penghargaan pada Inu karena dosen tersebut sangat gigih dan berani dalam mengungkap praktik bullying di kampus IPDN. Diharapkan kehadirannya dapat menjadi motivasi bagi guru, orangtua dan masyarakat untuk turut menghapus tindak kekerasan di Indonesia. "Yang seperti ini bisa jadi contoh para pendidik lain agar menolak bullying di sekolah," katanya.

Dienna mengatakan bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. Bentuknya berupa kekerasan fisik, verbal dan psikologis. Kasus IPDN adalah salah satu contohnya. Menurut dia, bullying banyak terjadi di lingkungan sekolah tapi tak banyak diungkap ke publik. "Seharusnya masyarakat lebih aware," katanya.

Inu Kencana, dosen yang mulai mengajar di IPDN (dulu STPDN) sejak tahun 1990 itu saat didaulat panitia mengatakan siapapun yang mengetahui kekerasan atau bullying di sekolah harus berani dan jujur mengungkapkan. Kejujuran, kata dia, adalah kunci ia dapat menghadapi tekanan yang datang dari berbagai pihak terutama dosen dan maahsiswa IPDN saat ia mengungkap kasus Wahyu Hidayat dan Cliff Muntu. "Berani belum tentu jujur, tetapi jujur sudah pasti berani," katanya disambut tepuk tangan riuh hadirin.

Inu yang diwawancarai Tempo melalui telepon setelah mendapatkan penghargaan menyatakan dia tetap akan terus memperjuangkan sikap anti bullying. Menurutnya penghargaan yang ia terima bukanlah akhir untuk bersikap kritis dan berani mengungkap praktek kekerasan di institusi pendidikan. "Saya tidak mau terus diam saja," tambahnya.

Sekarang, Inu masih aktif mengajar di IPDN, Universitas Langlang Buana, Bandung, Universitas Muhammadiyah Cirebon dan Sekolah Tinggi Administrasi YAPAN di Banten. Tahun 2004, ia mulai popular karena membongkar kekerasan di STPDN yang sekarang diubah menjadi IPDN. Saat itu seorang praja, Wahyu Hidayat meninggal akibat kekerasan oleh seniornya. Saat praja asal Sulawesi Utara, Cliff Muntu tewas, ia kembali menjadi dosen yang turut mengungkap kematian praja tersebut. Termasuk misteri kematian puluhan praja lain yang diduga bernasib sama.


Ninin Damayanti

TOPIK






Komentar Anda

Kirim