Gerakan Sayang Ibu Belum Efektif Menekan Angka Kematian
Kamis, 03 Mei 2007 | 02:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono mengatakan Program Gerakan Sayang Ibu yang telah digulirkan sejak 10 tahun lalu belum efektif.
Program untuk menekan angka kematian ibu tersebut, hasilnya masih dirasakan kurang. Menteri Meutia menjelaskan itu dalam Seminar Nasional Rancang Bangun Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu untuk Mencapai Sasaran Millenium Development Goals, di Gedung Bappenas, Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan, kurang efektifnya program tadi disebabkan belum menjadi prioritas di daerah. Berdasarkan survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada 2002 hingga 2003 angka kematian ibu saat melahirkan dan nifas sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup.
Pada 2005, merujuk data Badan Pusat Statistik, angka kematian ibu saat melahirkan sebanyak 262 per 100 ribu kelahiran hidup. "Meski terjadi penurunan jumlah angka kematian ibu, tapi tidak signifikan," katanya.
Penyebab tingginya angka kematian ibu saat melahirkan, ia melanjutkan, terutama disebabkan faktor nonmedis, yaitu faktor ekonomi, sosial budaya, serta faktor agama.
Ia mencontohkan banyak kaum ibu yang menganggap kehamilan sebagai peristiwa alamiah biasa. Padahal, menurutnya, kehamilan merupakan peristiwa yang luar biasa sehingga perhatian terhadap kesehatan ibu hamil harus diperhatikan.
Rendahnya pengetahuan ibu terhadap kesehatan reproduksi juga menjadi sebab tingginya kematian ibu selain pelayanan dan akses mendapakan layanan kesehatan yang buruk.
Dwi Riyanto Agustiar





