Warga Alas Tlogo akan Membangun "Prasasti 30 Mei"

Sabtu, 02 Juni 2007 | 15:00 WIB

TEMPO Interaktif, Pasuruan:Warga Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berniat membangun prasasti untuk mengabadikan peristiwa penembakan oleh belasan Marinir dari Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Laut, Grati, Rabu (30/5) lalu. Pembangunan prasasti didedikasikan untuk empat korban tewas yang telah dimakamkan dan korban luka-luka yang masih dirawat di rumah sakit.

Niat membangun prasasti itu disampaikan Kepala Desa Alas Tlogo, Imam Supnadi, kepada Tempo, Sabtu (2/6), di sela kesibukkannya mengatur warganya menyiapkan tempat bagi kehadiran mantan presiden K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur—dijadwalkan tiba di Alas Tlogo pada pukul 15.00. Prasasti akan dibangun tepat di makam para korban tewas.

"Kami memang ingin membangun prasasti. Bagi kami, saudara kami yang tewas itu sudah menjadi pahlawan. Peristiwa kemarin itu sangat berarti dan tak mungkin bisa kami lupakan begitu saja. Rencana kami, prasastinya dibangun di makam mereka," kata Imam.

Soal nama dan sumber dananya masih akan dirundingkan lagi. Kata Imam, warga banyak menyebut nama "Prasasti 30 Mei". Sedangkan pendanaannya mungkin mengandalkan swadaya warga. Tapi, warga pun tidak akan menolak jika ada pihak-pihak yang ingin membantu asalkan bukan dari TNI, khususnya dari TNI Angkatan Laut.

Para korban tewas yang sudah dimakamkan pada Kamis (31/5) pagi adalah Sutam bin Saruyan, Rohman bin Saumar, Dewi Khotijah binti Juma'atun, dan Mistin binti Samad.
Rencana pembangunan prasasti sangat didukung warga, khususnya para keluarga korban tewas dan luka-luka. Juma'tun (56), ayah kandung almarhumah Dewi Khotijah, misalnya, sangat berharap pembanguna prasasti bisa segera dilakukan. Ia menyamakan insiden berdarah 30 Mei lalu dengan peristiwa pada 30 September 1965.

"Sangat sulit bagi kami untuk memaafkan para pelaku penembakan, tapi biarlah mereka dipecat dan dihukum yang seberat-beratnya," kata Juma'tun di Musalah Nurul Huda, yang berada tepat di depan rumahnya. Sundari (49), istri Juma'tun, mengaimini pernyataan sang suami.

Abdi Purmono






Komentar Anda

Kirim