Saksi: Marinir Menembak Langsung

Jum'at, 08 Juni 2007 | 22:15 WIB

TEMPO Interaktif, Pasuruan:Lima warga Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, diperiksa tim Polisi Militer Angkatan Laut Pangkalan Utama Angkatan (P0mal Lantamal) V/Surabaya, Jumat (8/6).

Mereka dinilai sebagai saksi yang melihat, mendengar, dan mengetahui langsung tragedi berdarah Rabu (30/5) lalu, yang menewaskan empat warga dan melukai tujuh orang lainnya.

Delapan penyidik Pomal yang dipimpin Letnan Satu (PM) Rifki memeriksa kelima saksi di empat ruangan terpisah di Markas Kepolisian Sektor Grati mulai pukul 9 pagi sampai empat sore WIB. Pada hari bersamaan, tim Pomal mendatangi lokasi untuk mencari sisa-sisa peluru yang mungkin masih ada di TKP. Pencarian menggunakan alat pendeteksi metal.

Pemeriksaan disaksikan langsung oleh Mayor Jenderal TNI Hendardji Supandji, Ketua Tim Supervisi dan Asistensi Staf Khusus Polisi Militer TNI, yang juga Komandan Pusat Militer TNI Angkatan Darat. Tim Supervisi dan Asistensi beranggotakan sembilan orang: Kolonel (PM) Kingkin S. (wakil), Kolonel (PM) Zapanta (wakil), Kolonel (CPM) Sulaiman (anggota), Kolonel (POM) R. Sudibyo (anggota), Letnan Kolonel (PM) Daryowo (anggota), dan Letnan Kolonel (PM) Hartoto.

Hadir pula Staf Menteri Politik, Hukum, dan HAM (begitu yang tertulis di buku tamu milik Polsek Grati) yaitu Brigadir Jenderal Polisi Rajif Sofian, Brigadir Jenderal TNI Tan Aspan, dan Kolonel CAJ Arief Permadi.

Kelima warga yang diperiksa adalah Juma'atun (56 tahun, ayah kandung almarhumah Dewi Khotijah), Misnatun (36), Samad (53 tahun, ayah kandung almarhumah Mistin), Budiono (34), dan Bura'i alias Pak Sah (56). Sedangkan empat saksi lagi batal diperiksa. Mereka adalah Mukhtar (34), Munaji (34), Kasari alias Syaiful (48), dan Misdi (42).

Juma'atun, Misnatun, dan Samad diperiksa lebih dulu, menyusul Budiono dan Bura'i. Setiap saksi diperiksa dua petugas dengan didampingi seorang anggota tim pengacara dari Lembaga Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (Lakum HAM) Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur, yang diketuai Aries Sugihartono.

Juma'atun mendapat 29 pertanyaan. Penyidik menyodorkan 33 pertanyaan pada Misnatun. Samad menerima 31 pertanyaan. Budiono dan Bura'i masing-masing mendapat 24 dan 30 pertanyaan. Mereka lalu disumpah setelah memberikan keterangan.

Secara umum, pertanyaan yang diajukan penyidik sama. Antara lain, apa yang dilakukan saksi saat prajurit Marinir melepaskan tembakan; apakah mereka mengenali jenis senjata yang dipakai; apakah warga melakukan perlawaan saat Marinir melepaskan tembakan; apakah ada tembakan peringatan yang dilepaskan Marinir sebelum menembaki warga; berapa jumlah warga yang berkumpul untuk melakukan protes; apakah mereka mengetahui orang yang mengerahkan warga untuk berkumpul; apakah mereka mendengar suara tanda untuk berkumpul sebelum terjadi insiden penembakan; apakah mereka mengetahui maksud dan tujuan warga berkumpul saat itu; apakah mereka mengetahui ada warga desa lain yang ikut berkumpul pada saat terjadi penembakan, dan adakah warga yang membawa senjata tajam atau benda lain pada saat berkumpul.

Kepada Tempo, hanya empat saksi yang mengaku tidak melihat, mendengar, dan mengetahui adanya tembakan peringatan. Sedangkan Bura'i mengaku mendengar adanya tembakan peringatan.

"Saya hanya sekali mendengar adanya tembakan peringatan tapi tak tahu dari mana arahnya, setelah itu tembakan langsung," kata Bura'i.

Seusai pemeriksaan, Aries Sugihartono menyatakan akan menambah jumlah saksi untuk memperkuat berita acara pemeriksaan. "Keempat saksi lagi yang hadir sekarang belum dilengkapi surat pemanggilan, makanya pemeriksaan atas diri mereka dibatalkan," katanya.

Sedangkan Hendardji Supandji tak banyak berkomentar. "Semua ada prosesnya. Kan itu tak bisa dijelaskan sepotong-sepotong. Jadi, belum bisa kami simpulkan sekarang. Tapi yang pasti setiap saat kami akan pantau dan awasi proses penyidikan dan serangkaian proses hukum lainnya. Belum bisa saya jelaskan sekarang," katanya, menjawab pertanyaan Tempo mengenai hasil peninjauan yang ia lakukan sejak Kamis kemarin.

Sumber Tempo menyebutkan, kehadiran Tim Supervisi dan Asistensi di Pasuruan untuk memastikan apakah proses penyidikan yang dilakukan Pomal sudah memenuhi prosedur yang benar atau belum.

Kamis kemarin, dengan didampingi Komandan Pomal Lantamal V/Surabaya, Kolonel (PM) Totok Budi Susanto, Hendardji mengunjungi Alas Tlogo untuk mencari tahu posisi Marinir, tempat jatuhnya korban, serta bekas-bekas tembakan peluru yang menembus tembok musalah Nurul Huda (di depan rumah Juma'atun), rumah penduduk, maupun batang-batang pohon. Hendardji sempat berbincang dengan Kepala Desa Alas Tlogo Imam Supnadi, dan mendengar kesaksian Misdi, korban yang tertembak di bagian perutnya.

Letnan Satu (PM) Rifki mengunci mulut. Ia berkata pendek, "Bukan kompetensi saya untuk memberi tanggapan." Namun, sumber Tempo di anggota tim Pomal menyebutkan pembatalan pemeriksaan terhadap Munaji, Mukhtar, Kasari, dan Misdi karena keempatnya memang belum diberi surat panggilan.

Abdi Purmono






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: