Polisi Menilai Bantuan Satelit Amerika Tak Seberapa
Rabu, 20 Juni 2007 | 20:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Kepala Divisi Humas Kepolisian RI Inspektur Jenderal Sisno Adiwinoto menilai bantuan asing dalam melacak aktivitas komandan sayap militer Jamaah Islamiah tidak seberapa. "Itu masih termasuk bantuan teknis. Sama seperti bantuan pelatihan," ujar Sisno di kantornya kemarin.
Dia menambahkan, bantuan pelacakan oleh polisi Australia dan fasilitas satelit Amerika itu tidak sampai pada proses-proses yang dilakukan Detasemen 88 Antiteror Polri. "Tidak sampai pada proses menyidik sampai melakukan penangkapan."
Pernyataan Sisno itu berbeda dengan keterangan yang disampaikan Kepala Desk Antiteror di Kantor Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Ansyaad Mbai dua hari lalu. Mbai mengatakan sejumlah perwira Kepolisian Federal Australia telah ditempatkan di Indonesia untuk mengendus keberadaan para tersangka teroris, melalui pelacakan komunikasi telepon seluler dan lalu-lintas surat elektronik.
Mbai mengungkapkan bahwa semua peralatan dan sistem pelacakan, termasuk satelitnya, merupakan milik Amerika Serikat. "Polisi Australia yang berwenang mengoperasikan," katanya.
Sisno mengakui, dalam pengejaran para tersangka terorisme itu, Indonesia tidak bisa melakukan pelacakan secara mendetail karena tidak memiliki satelit sendiri. "Masih terbatas keleluasaannya," ujarnya.
Tetapi, tentang bantuan asing dalam pelacakan itu, ia mengatakan bahwa setiap negara memiliki kepentingan dalam penanggulangan terorisme, dan itu harus dilakukan dengan kerja sama. "Tidak bisa sendiri-sendiri," kata Sisno. Budi Saiful Haris





