Jawa Tengah Hentikan Operasi Minyak Goreng
Jum'at, 29 Juni 2007 | 08:47 WIB
TEMPO Interaktif, Solo, Jawa Tengah:Meski harga minyak goreng masih tinggi namun sejumlah daerah di Jawa Tengah menghentikan dan membatalkan rencana operasi pasar. Alasannya, Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan instruksi menurunkan pajak ekspor crude palm oil (CPO) sebagai pengendalian harga.
"Sebenarnya harga minyak goreng di Boyolali masing tinggi, di atas Rp 8.000 per kilogramnya, tetapi sudah tidak ada operasi lagi karena sudah ada edaran," kata Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Boyolali, Sugianto, Jum'at (29/6).
Kabupaten Boyolali mengajukan permintaan 245.000 kilogram dalam melaksanakan operasi pasar di tujuh kecamatan.
Sugianto mengatakan kewenanan menggelar operasi pasar ada pada pemerintah propinsi, sementara pemerintah kabupaten hanya mengusulkan. "Kalau keinginan masyarakat sebenarnya ingin operasi minyak goreng diteruskan sampai harganya seperti semula yakni Rp 6.500 - Rp 6.7000 per kilogram," ujarnya.
Operasi pasar minyak goreng dihentikan di Kabupaten Sragen. Menurut Kepala Dinas Perdagangan Sragen Djoko Purwanto, operasi pasar dinilai tidak mendesak lagi setelah pihaknya mendistribusikan 40 ton minyak goreng ke masyarakat. Djoko menjamin ketersediaan stok minyak goreng di pasaran masih mencukupi.
Di Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo dan Kota Solo, operasi pasar bahkan sama sekali belum pernah dilakukan. Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri, Mulyadi pelaksanaan operasi di daerahnya batal karena ada perintah dari provinsi.
Imron rosyid





