Obat Generik Di Daerah Mulai Langka
Jum'at, 06 Juli 2007 | 07:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit di daerah mengeluh kekurangan stok obat generik.
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada) Hanna Permana mengatakan, kekurangan stok itu terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. "Banyak rumah sakit dan puskesmas di daerah mengeluh kepada saya," katanya saat dihubungi Tempo.
Jenis obat yang kurang stoknya antara lain antibiotik seperti Amoxicillin, obat asma, anastesi lokal, dan air raksa untuk gigi. Diantara jenis obat-obatan tersebut, stok antibiotik paling sedikit. Padahal obat ini sangat diperlukan dalam menyembuhkan berbagai penyakit infeksi. "Kebanyakan pasien datang ke rumah sakit karena menderita infeksi," katanya.
Akhirnya, kata dia, para dokter terpaksa memberikan obat paten atau obat bermerek pada pasien. Padahal harga obat paten lebih mahal dibandingkan obat generik. Dia mencontohkan, harga antibiotik versi generik adalah Rp 300 per butir. Sedangkan untuk obat bermerek harganya bisa dua kali lipat, berkisar Rp 650 butir.
Kondisi ini jelas sangat memberatkan pasien. Hanna menduga pabrik obat enggan memproduksi lagi obat generik. "Ada yang bilang ke saya, mereka rugi kalau memproduksi obat generik," katanya.
Ia meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah kekurangan obat generik ini. Kalau tidak, rumah sakit dan puskesmas di daerah akan semakin
sulit mencari obat generik. Pasien pun akan semakin terbebani.
PRAMONO





