PLTN Adalah Teknologi Gagal
Jum'at, 13 Juli 2007 | 19:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah gagal dari awal diciptakan dan tidak perlu lagi dikembangkan keberadaannya. Hal ini terbukti dengan ketidakmampuan negara pengguna PLTN untuk mengolah limbah nuklir dan menjamin keselamatannya.
"Amerika Serikat yang sudah menggunakan PLTN selama 50 tahun, masih belum dapat mengolah limbah nuklir. Sekarang, limbah itu menjadi masalah besar bagi masyarakat daerah Nevada," ungkap Dian Abraham, aktivis Masyarakat Anti Nuklir Indonesia (Manusia) di Galeri Publik, Jakarta, Jumat sore.
Dian yang biasa dipanggil Aan menilai proyek pembangunan PLTN pada 2016 nanti hanyalah proyek mimpi para ahli nuklir Indonesia. Sebab masih ada energi terbarukan yang lebih aman dan efektif digunakan, seperti energi panas bumi.
Sementara itu, Nur Hidayati, Juru kampanye Energi dan Iklim Greenpeace Asia Tenggara menyatakan, PLTN hanya menyumbang 2 persen dari kebutuhan listrik negara. Sehingga ia mudah tergantikan oleh sumber energi lain yang lebih efektif dan aman.
Selain itu, ia melanjutkan, umur dari instalasi PLTN maksimum hanya mencapai 40 tahun. Setelah itu, instalasi harus dibongkar atau istilahnya decomitioning dan menjadi limbah nuklir yang harus terus dikelola. Pengelolaan seperti itu juga membutuhkan biaya tidak sedikit.
Dari segi keselamatan, kata Nur Hidayati, sampai sekarang belum ada pihak yang mau bertanggung jawab jika terjadi kebocoran nuklir, terutama ketika gempa. Sorta Tobing





