Presiden Yudhoyono Tak Perlu Terpancing Zaenal
Minggu, 29 Juli 2007 | 08:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit menilai, tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap tuduhan Zaenal Maarif hanya akan memperlebar masalah.
Respons Presiden, menurut dia, hanya akan membuat semakin banyak masyarakat yang mengetahui masalah ini dan mempertanyakan.
"Harusnya cuekin aja, seminggu juga orang lupa," kata Arbi kepada Tempo, pagi ini.
Dengan menuntut balik Zaenal, kata dia, pemberitaan media massa akan semakin ramai. Itu layaknya memasang iklan dan menyadarkan masyarakat tentang adanya persoalan keluarga Presiden. Sehingga, seharusnya, Presiden Yudhoyono tak perlu menanggapi. "Menuntut balik tidak akan memberikan pelajaran bagi Zaenal maupun politikus lainnya," tutur Arbi.
Menurut dia, setiap pemimpin pasti memiliki risiko seperti itu. Banyak orang yang ingin menjatuhkan jabatannya. Di dalam politik tidak semua masalah perlu diselesaikan secara hitam putih seperti di pengadilan. Tetapi selalu ada wilayah abu-abu. Jadi, seharusnya dibiarkan saja persolan itu dalam wilayah abu-abu.
Arbi menuturkan, saat ini persoalannya tidak lagi ihwal pemberhentian Zaenal dari keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat. Sebaliknya, soal ini sudah menjadi masalah pribadi Presiden dengan Zaenal.
Arbi menyarankan, tuntutan Presiden dihentikan, dan persoalan dikembalikan ke masalah semula, yakni Zaenal. "Presiden tinggal menjelaskan pemberhentian Zaenal adalah masalah internal partai, dia hanya menjalankan tugas prosedural," paparnya.
Presiden Yudhoyono, Kamis lalu mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 60/P Tahun 2007 tentang pemberhentian Zaenal Ma'arif sebagai anggota Dewan. Anggota Partai Bintang Reformasi ini berang dan balik mengancam akan membeberkan kabar Presiden Yudhoyono yang disebutkan telah menikah sebelum menjadi taruna Akabri
AQIDA SWAMURTI





