Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Aktivis Asia Pasifik Desak Transparansi Industri Pertambangan
Minggu, 12 Agustus 2007 | 08:57 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar:Puluhan aktivis lembaga swadaya masyrakat (LSM) dari 16 negara Asia Pasifik mendesak pemerintah di kawasan ini untuk lebih transparan mengenai pengelolaan dana dari sektor pertambangan. Hal itu untuk mencegah industri ini menghasilkan ’kutukan sumberdaya’ berupa korupsi dan kemiskinan.

”Kita khawatir pendapatan yang lebih tinggi dari penjualan minyak dan gas tidak dinikmati oleh rakyat,” kata Rezki Wibowo, Deputi Sekjen Transparansi Internasional Indonesia, Ahad.

Desakan itu adalah hasil lokakarya koalisi masyarakat sipil global Publish What You Pay (PWYP) bersama dengan Transparency International (TI) Indonesia, pada 6-11 Agustus 2007 di Bali.

Data PWYP, meski Asia Pasifik hanya memiliki 3,4% cadangan minyak dan 8,2% cadangan gas global, namun perusahaan-perusahaan minyak, gas dan pertambangan kini berlomba menanamkan investasi di kawasan ini secara sangat agreasif. Di sektor petrokimia, Asia Pasifik menarik hingga 45% investasi global – jauh melebihi tingkat investasi di masa lalu.

Kepentingan industri minyak, gas dan pertambangan di sektor ini mendapat dukungan dari International Finance Corporation (IFC), lembaga Bank Dunia yang melayani sektor swasta. Pada bulan April 2007, IFC menyatakan akan menaikkan investasinya di dalam proyek proyek pertambangan di Asia Tenggara, dengan fokus kepada Indonesia, Filipina dan Vietnam.

Karena itu, IFC dan institusi finansial kunci lainnya seperti Asian Development Bank dan International Monetary Fund dihimbau untuk menjadikan transparansi keuangan sebagai persyaratan bagi proyek proyek minyak, gas dan pertambangan yang mereka danai.

Selain EITI, PWYP juga mendorong transparansi kontrak dan mekanisme pemberian konsesi antara pemerintah dan perusahaan. “Warga negara harus dapat mengevaluasi apakah negaranya mendapatkan ‘deal’ yang adil” tegas Radhika Sarin, Koordinator International Publish What You Pay. Rofiqi Hasan


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk105357 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Ryugyong Dibangkitkan dari Koma
Dua Desa di Kwamki Lama Kembali Bentrok
9.000 Anak Di Banten Menderita Gizi Buruk
Kabupaten Batubara Kekurangan Dana Selenggarakan Pilkada
Karena Ditekan, Glenn Suap Urip Rp 1 Miliar

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data