|
Franz Magniz: 62 Tahun Merdeka, Indonesia Lebih Maju
Jum'at, 17 Agustus 2007 | 16:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Guru Besar Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Franz Magnis Suseno mengatakan selama 62 tahun Indonesia merdeka, sudah banyak kemajuan. Hal itu, kata dia, setelah Indonesia melewati beberapa goncangan. "Tidak bisa siap menghadapi globalisasi, setelah terhempas," katanya dalam Refleksi 62 Tahun Kemerdekaan RI di Kantor DPP PKB Kamis (16/8).
Menurut dia, bangkitnya Indonesia dari keterpurukan sudah cukup cepat. Hal itu, lanjut dia, menilik perjuangan Jerman negara kelahirannya bangkit setelah perang dunia kedua. "Pernah gagal total dan Indonesia keluar lebih baik," katanya. Kemajuan itu, lanjut dia, dapat dilihat kebebasan yang ada, dukungan demokrasi yang begitu kuat dan adanya dukungan penuh dari partai politik. "Hal itu kemajuan dan tidak pernah terjadi semasa Orde Baru dan Orde Lama," kata dia.
Namun, Magnis mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. "Banyak yang harus diperbaiki," tegasnya. Dia menambahkan ada lima tantangan yang harus bisa diselesaikan pemerintah yaitu; kemiskinan, ekstrimisme, hubungan pusat dan daerah, sistem hukum dan modal sosial dan budaya. "Hal itu yang harus segera dibenahi," kata dia.
Anggota Dewan Syuro PKB Muslim Abdulrahman mengatakan membangun bangsa ini semakin maju dapat dilakukan dengan menjaga lima hal yaitu; menjaga memory kolektif, membangun infrastruktur, mengembangkan sosial budaya, pendidikan dan kebangsaan. "Hal itu selama ini yang belum terbangun dengan baik," kata dia.
Menurut dia, selama ini kebijakan dari pemerintah tidak bisa mengena pada masyarakat kecil. "Bukan pertumbuhan makro yang diinginkan rakyat, tetapi terbuka lowongan kerja dan harga yang murah," ujarnya. Masyarakat, kata dia, tidak bisa makan dengan pertumbuhan makro. "Perlu hal-hal yang riil," kata dia.
Hal itu, lanjut dia, telah merubah dedikasi keagaman kepada masyarakat kecil. Karena dorongan perut, kata dia, banyak yang telah meninggalkan kegiatan keagamaan. "Bagi masyarakat kecil suara adzan sama dengan suara klakson," kata dia. Dia menyarankan agar pembinaan keagamaan lewbih gencar dilakukan. "Namun bukan dengan syariat islam," ujar dia.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan pembinaan keagamaan itu sangat penting dalam pembangunan ini. Kehidupan beragama itu, lanjut dia, harus disesuaikan dengan agamanya masing-masing. Menurut dia, ada dua syarat hidup beragama itu akan terasa nyaman yaitu dengan yakin akan kebenaran agamanya dan yakin terhadap nilai-nilai kemanuasiaan. "Hidup beragama akan lebih baik," kata dia.
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno mengatakan ada tiga unsur yang harus dibina untuk membangun bangsa ini yaitu; Sosial Budaya, Sosial Ekonomi dan Sosial Politik. Kegagalan masa lalu, kata dia, diakibatkan tidak adanya kepaduan tiga unsur itu. Pada masa orde lana, kata dia, bertitik tolak pada Politic Happy dan masa Orde Baru pada Economic Happy. "Dikejar pertumbuhan ekonomi, tidak ada pemerataan," tegasnya.
Menurut dia, banyak sistem yang tidak tepat dianut pada masa lalu. Hal itu, lanjut dia, menyebabkan banyaknya pengangguran dan merajalelanya kemiskinan. "Pembangunannya dimulai dari Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam," katanya. Pembinaan Sumber Daya Manusia, kata dia, dilakukan dengan membenahi sistem pendidikan. "Jaman orde baru output oriented, seharusnya job oriented," katanya. Output oriented itu, kata dia, telah merusak sistem dan budaya ijazah palsu itu merebak.
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah telah menyiapkan konsep menanggulangi hal itu. Caranya, kata dia, dengan menerapkan konsep sistem transmigrasi nasional, membangun Balai Latihan kerja, dan memperbanak sekolah kejuruan.
eko ari wibowo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|