|
Konsentrasi Kepemilikan Radio Tidak Perlu Dikhawatirkan
Jum'at, 24 Agustus 2007 | 16:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia tidak perlu khawatir dengan konsentrasi kepemilikian media radio karena monopoli sepihak atas industri tersebut jauh dari kenyataannya.
"Penelitian apa pun tidak bisa membuktikan kalau di Indonesia ada monopoli. Karena tidak ada yang dilanggar. Tapi ini suatu peringatan bagi kita semua," ujar Ade Armado, pengamat komunikasi dan pengajar FISIP UI, dalam peluncuran buku Demokratisasi di Udara di Hotel Manhattan, Jakarta, Jumat (24/8).
Masyarkat jangan takut pada kompetisi ekspansi perusahaan media radio dan cetak. Yang lebih penting untuk dipikirkan adalah regulasi yang masih kacau-balau. “Regulasilah yang bisa menyebabkan konsentrasi pengusaha media yang merugikan, seperti kasus televisi berlangganan ASTRO yang menguasai penanyangan liga Inggris,” ungkap Ade.
Lebih lanjut Ade mengatakan jangan sampai proses liberalisasi media yang terjadi saat ini mencontoh Amerika Serikat. "Sejak liberalisasi tahun 1996 di AS, perusahaan Clear Channel dapat menguasai 1200 stasiun radio di seluruh negara bagian,” ungkapnya. Akibatnya, terjadi homogenisasi, penyamarataan, isi radio yang terkadang tidak berimbang.
Kondisi liberalisasi seperti demikianlah yang perlu dikhawatirkan. “Tapi saya tidak melihat hal itu terjadi di Indonesia. Karena tidak ada koran atau radio yang dominan,” kata Ade.
Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini adalah konglomerasi radio dari pengusaha media cetak maupun televisi. Dalam buku Demokratisasi di Udara disebutkan setidaknya ada 7 jaringan kepemilikan radio yang menguasai pula jaringan lokal di seluruh Indonesia. Keenam jaringan itu adalah MRA Group, Masima Group, MNC Group, Radio Elshinta, Radio Sonora, Ramako Group, dan CPP Radionet.
Pengamat komunikasi dan pemilik stasiun radio Smart FM, Fahri Muhammad mengatakan untuk mencegah memburuknya konsentrasi media, setiap pemilik harus memiliki itikad baik dalam berbisnis.
“Boleh ada keberagaman dan keseragaman dari isi, tapi owner (pemilik radio) harus membuat tembok yang memisahkan antara marketing dan isi,” ujarnya. Dari pengalamannya, Fahri menambahkan, justru yang banyak mengandung muatan lokal lebih menjual daripada yang tidak ada.
Sorta Tobing
INDEKS BERITA LAINNYA :
|