Indonesia Tiga Besar Dunia Pelepas Emisi Karbon
Selasa, 28 Agustus 2007 | 11:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Provinsi Riau memiliki hutan alam yang tersisa 2,7 juta hektar. Kerusakan yang terjadi dalam satu tahun adalah 160.000 hektar. Kondisi itu mengancam eksistensi hutan alam yang tersisa.
Proses deforestasi dan degradasi hutan alam di Propinsi Riau berlangsung sangat cepat. Selama kurun waktu 24 tahun (1982-2005) Propinsi Riau sudah kehilangan tutupan hutan alam seluas 3,7 juta hektar.
Laju deforestasi tersebut berakibat menempelnya stigma negara ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat dan Cina kepada Indonesia oleh publik internasional.
Terkait isu itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggelar diskusi publik Kamis (30/8) besok di Jakarta. Diskusi itu bertema "Membaca Sistem Pengelolaan Hutan Indonesia: Belajar dari Riau.”
Dalam pernyataan tertulisnya, Walhi mengajak masyarakat melihat secara utuh kondisi kerusakan hutan di Riau. Indonesia tercatat sebagai pemilik areal hutan terluas ketiga di dunia, setelah Brazil dan Zaire. "Saat ini keadaan itu berbalik, Indonesia lebih dikenal sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia," kata
Pelaksana Tugas Relasi Media WALHI Abdul Halim dalam siaran tertulis melalui surat elektronik.
Menjamurnya industri kehutanan di propinsi Riau telah menjadi salah satu penyebab degradasi hutan alam yang semakin tidak terkendali. Selain itu, ketersediaan dan kebutuhan berbeda jauh. Sehingga seringkali terbit izin untuk areal-areal yang seharusnya tidak bisa diperizinkan.
Arus besar pemerintah yang mengedepankan investasi dan keberlanjutan bahan baku dari industri perkayuan mengancamkelestarian hutan alam yang tersisa. Terutama pemenuhan kebutuhan hutan tanaman untuk bubur kertas dan kertas. Selain itu, hutan hanya dipandang sebagai pemenuhan nilai ekonomi dari kayu.
KURNIASIH BUDI





