|
BRR Bangun Rumah Sakit Rujukan di Nias
Rabu, 29 Agustus 2007 | 20:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit Umum (RSU) Gunung Sitoli akan dijadikan rumah sakit rujukan di Nias. ?Fase ketiga pembangunan RSU Gunung Sitoli akan dimulai September nanti,? kata Kepala Regional VI Nias, William Sabandar di Kantor Perwakilan BRR NAD Nias, Jakarta Selatan, Rabu (29/8).
Menurutnya, selama ini penduduk Nias yang membutuhkan pelayanan lebih dirujuk ke Rumah Sakit di Kota Medan. "Bahkan kadang-kadang sampai ke Penang,? Kata Kepala Regional VI Nias, William Sabandar di Kantor Perwakilan BRR NAD Nias, Jakarta Selatan, Rabu (29/8). ?Tidak adanya rumah sakit rujukan tersebut yang mengakibatkan tingginya angka kematian penduduk pasca gempa. Karena penduduk harus (pergi) ke pulau utama (Sumatera) dulu untuk mendapatkan pengobatan lebih.?
Kepala operasi MERCY Malaysia, Mohammad Noorazam Abusamah mengatakan bahwa kerusakan Rumah Sakit Umum (RSU) Gunung Sitoli tergolong tingkat empat. kerusakan tingkat tinggi. ?Biaya untuk memperbaiki Rumah Sakit Gunung Sitoli sama dengan mendirikan Rumah Sakit yang baru.? Karenanya BRR, dan MERCY Malaysia bekerja sama dalam mendirikan gedung baru untuk RSU Gunung Sitoli diatas tanah yang lama. RSU Gunung Sitoli akan menjadi rumah sakit rujukan yang mampu menampung seluruh penduduk Nias.
Pembangunan itu, menurut Noorazam, dilakukan melalui empat fase. Fase pertama adalah pembangunan fasilitas kebidanan, kesehatan anak, kantor administrasi dan juga berfungsi sebagai fasilitas darurat, dan operasi sementara. Pembangunan fasilitas kebidanan dan kesehatan anak menjadi prioritas utama karena tingginya tingkat kematian ibu dan bayi di Nias.
Di Nias angka kematian ibu melahirkan mencapai 357 dari 100 ribu kehamilan, sementara di Nias Selatan mencapai 931 per 100 ribu kehamilan. Fase pertama tersebut memakan biaya sebesar Rp. 10 miliar yang didanai oleh MERCY Malaysia. Fase kedua meliputi pembangunan fasilitas rawat inap, laundry dan dapur. Pendanaan fase kedua ini berasal dari RRC sebesar Rp.13,5 miliar.
?Fase ketiga meliputi pembangunan Unit Gawat Darurat (UGD), ruang rawat inap, farmasi, rumah duka, klinik, IT Workshop dan Medical Records.? kata William. Dana sebesar Rp 47 miliar untuk pembangunan fase ketiga tersebut diberikan oleh Jepang melalui JICS. ?Untuk fase keempat kami belum mendapatkan komitmen dari pihak manapun.? ujarnya.
Noorazam selaku arsitek dari masterplan RSU Gunung Sitoli tersebut menyebutkan bahwa alokasi dana berlebih yang diberikan Jepang, akan digunakan untuk membuat jalan yang menghubungkan seluruh rumah sakit. Ia juga menyebutkan pihaknya telah menyediakan zona darurat bencana. Zona itu, menurutnya, merupakan tempat pertolongan ketika terjadi bencana besar melanda Nias.
?Di zona tersebut kami menyiapkan kemudahan untuk akses air bersih, dan obat-obatan.? kata Noorazam. ?Jadi, andaikata terjadi bencana, dan bangunan ini tidak bertahan, pihak rumah sakit lebih mudah memberikan pertolongan.? ia menambahkan.
Noorazam juga menyebutkan bahwa pihaknya telah memikirkan perawatan dan biaya operasional yang akan dikeluarkan setelah rumah sakit tersebut berdiri. ?Kami tidak membuat lift sebagai sarana transportasi horizontal, tetapi menggantinya dengan tangga dan ramp.?
RSU Gunung Sitoli telah beroperasi selama masa pembangunan. "Sekurang-kurangnya 30 baby telah lahir di rumah sakit baru." kata Noorazam. Terkait jumlah biaya yang harus dikeluarkan penduduk nias yang sebagian besar tergolong miskin tersebut, BRR mengaku tidak tahu menahu . ?Itu urusannya sama administrasi. Kami hanya membangun.? kata William. Ia menambahkan ?Kalau mereka menggunakan kartu miskin (askeskin), ya... seharusnya gratis.?
Selain membangun rumah sakit rujukan, BRR telah memberdayakan 22 puskesmas utama di setiap pusat kecamatan. "Sebelas diantaranya tergolong puskesmas plus" kata William. Puskesmas Plus tersebut selain mampu memberikan standar pelayanan normal. juga mampu memberikan pelayanan rawat inap, menyediakan dokter umum, dan mampu menangani pasien gizi buruk.? AMANDRA MUSTIKA MEGARANI
INDEKS BERITA LAINNYA :
|