Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU Tak Berbeda Pendapat Soal Awal Ramadhan
Selasa, 11 September 2007 | 22:25 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah menetapkan awal Ramadhan tahun ini jatuh pada 13 September 2007. "Setelah mendengar semua tanggapan, semuanya punya arah yang sama. Tanggal 1 Ramadhan jatuh pada Kamis ini," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni dalam sidang Isbath di Gedung Departemen Agama kemarin.
Maftuh didampingi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh. Hadir juga 15 Duta Besar, antara lain Duta Besar Arab Saudi, Nigeria, Malaysia, dan Palestina.
Wakil Ketua Komisi Agama, Yoyoh Yusroh, juga hadir dalam sidang tersebut.
Berbeda dengan tahun lalu, kali ini tidak ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan. Wakil Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Goodwil Zubai, setuju dengan keputusan pemerintah. "Kami telah menghimpun ahli hisab di Yogyakarta dan tak ada perbedaan dengan pemerintah," katanya.
Perwakilan Nahdlatul Ulama, Ketua Pengurus Pusat Lujnah Falakiyah, Ghozali Masroeri, mengaku belum menetapkan awal Ramadhan. Namun, Nahdlatul Ulama, ikut keputusan pemerintah. "Pemerintahlah yang punya kewenangan menetapkan," katanya.
Penentuan awal Ramadhan ini diambil setelah mengamati hilal (posisi bulan). Pemantauan hilal dilakukan di lima titik, yaitu Mesjid Baiturochman Aceh, Mesjid Agung Semarang, Bukit Condrodipo Gresik, Tanjung Bunga Makassar, dan pusat penelitian bintang, Boscha.
Pemerintah belum menetapkan waktu 1 Syawal 1428 Hijriah. Menurut Maftuh, penetapan kemungkinan akan dilakukan pada 11 Oktober melalui Rukyat. Pemerintah juga sedang menyusun kriteria penetuan Syawal. "Selama ini waktu Syawal tidak sama, karena kriterianya juga berbeda," katanya.
Maftuh berharap, tidak akan ada perbedaan lagi dalam menetukan waktu Syawal. Kalau terjadi perbedaan, "Saya malu," katanya. Kalaupun terjadi perbedaan, lanjut Maftuh, jangan sampai mengakibatkan selisih yang berkepanjangan. "Jangan jadi permulaan perkelahian," katanya.
Pramono





